Tomas yang Ragu: Mengapa Iman yang Jujur dengan Pertanyaan Justru Dikehendaki Allah

Dalam hiruk-pikuk kehidupan Jakarta yang tak pernah tidur, berapa kali kita menemukan diri kita bertanya-tanya tentang Allah di tengah malam? Di antara kemacetan yang tak berujung, tekanan kerja yang mencekik, dan kesendirian di tengah jutaan orang, pertanyaan-pertanyaan tentang keberadaan dan kebaikan Allah seringkali mencuat dengan paksa.
Jika Anda pernah merasakan hal ini, Anda tidak sendirian. Bahkan lebih mengejutkan lagi—Anda berada dalam kelompok yang baik. Salah satu murid Yesus yang paling dekat, Tomas, dikenal justru karena keraguannya.
Keraguan di Tengah Kekecewaan
Ketika Yesus muncul kepada para murid setelah kebangkitan-Nya, Tomas tidak ada di sana (Yohanes 20:24-25). Bayangkan perasaannya: gurunya telah mati dengan cara yang paling memalukan, impian tentang kerajaan Allah tampaknya hancur, dan sekarang teman-temannya mengklaim melihat Yesus hidup kembali.
Reaksi Tomas sangat manusiawi: "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan memasukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan memasukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya" (Yohanes 20:25).
Di Jakarta modern, kita sering menghadapi "kematian" impian dan harapan kita. Pekerjaan yang dijanjikan tidak jadi, hubungan yang berakhir dengan sakit hati, keluarga yang terpecah belah. Seperti Tomas, kita bertanya: "Di mana Allah ketika aku membutuhkan-Nya?"
Keraguan Bukanlah Musuh Iman
Apa yang mengejutkan dari kisah ini bukanlah keraguan Tomas, tetapi respons Yesus terhadapnya. Ketika Yesus muncul kembali seminggu kemudian, Dia tidak memarahi atau menghukum Tomas. Sebaliknya, Yesus justru mengundang Tomas untuk memeriksa bekas luka-Nya: "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan letakkanlah dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya, tetapi percayalah" (Yohanes 20:27).
Ini adalah momen yang revolusioner. Allah tidak menuntut iman yang buta, tetapi iman yang berdasarkan bukti. Yesus tidak terancam oleh pertanyaan jujur; Dia justru meresponsnya dengan kasih dan kesabaran.
Dalam budaya gereja yang sering menekankan "iman yang kuat" sebagai standar, kisah Tomas mengingatkan kita bahwa keraguan yang jujur sebenarnya lebih berharga di mata Allah daripada kepalsuan religius yang mengklaim pasti tentang segala hal.
Iman yang Teruji adalah Iman yang Tumbuh
Respons Tomas setelah melihat Yesus adalah pengakuan iman yang paling mendalam dalam seluruh Injil: "Ya Tuhanku dan Allahku!" (Yohanes 20:28). Keraguan yang jujur telah membawanya pada iman yang lebih dalam dan otentik.
Di tengah kehidupan urban yang penuh dengan tekanan dan ketidakpastian, gereja Cengkareng seperti GKBJ Taman Kencana memahami bahwa jemaat tidak membutuhkan jawaban yang klise, tetapi ruang yang aman untuk bergumul dengan pertanyaan-pertanyaan yang sulit.
Iman yang sejati bukanlah absennya keraguan, tetapi keputusan untuk terus berjalan bersama Allah meskipun tidak semua pertanyaan terjawab. Seperti yang dikatakan penulis Anne Lamott: "Lawan dari iman bukanlah keraguan, tetapi kepastian."
Yesus Memahami Keraguan Kita
Yang paling menghibur dari kisah ini adalah bahwa Yesus sendiri pernah mengalami keraguan yang mendalam. Di kayu salib, Dia berseru: "Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" (Matius 27:46). Bahkan Anak Allah mengalami momen ketika Allah terasa jauh dan tidak dapat diakses.
Ini berarti ketika kita meragukan di tengah kemacetan Sudirman, ketika kita bertanya-tanya tentang keadilan Allah saat melihat kemiskinan di kolong jembatan, atau ketika kita bergumul dengan makna hidup di tengah rutinitas yang membosankan—Yesus memahami perasaan itu. Dia tidak berdiri jauh menghakimi, tetapi berdiri dekat memahami.
Komunitas untuk Para Peragu
Salah satu hal yang sering diabaikan dalam kisah Tomas adalah bahwa dia kembali kepada komunitas murid meskipun sedang meragukan. Dia tidak menyendiri atau meninggalkan kelompok. Justru karena dia tetap bersama komunitas, dia bisa bertemu dengan Yesus yang bangkit.
Di era digital di mana kita bisa merasa terisolasi meskipun terhubung dengan ribuan orang di media sosial, kita membutuhkan komunitas yang nyata—tempat di mana kita bisa jujur tentang keraguan tanpa ditolak.
Gereja yang sehat bukan tempat untuk orang-orang yang sudah punya semua jawaban, tetapi rumah bagi mereka yang masih mencari jawaban. Di GKBJ Taman Kencana, kami percaya bahwa pertanyaan yang jujur lebih berharga daripada jawaban yang palsu.
Undangan untuk Iman yang Jujur
Jika Anda sedang bergumul dengan keraguan hari ini, ingatlah bahwa Anda berada dalam kelompok yang terhormat. Tomas, yang kemudian menjadi misionaris besar yang membawa Injil hingga ke India, memulai perjalanannya dengan keraguan yang jujur.
Allah tidak membutuhkan iman kita yang sempurna. Yang Dia inginkan adalah hati yang terbuka dan jujur. Seperti yang Dia katakan kepada Tomas: "Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya" (Yohanes 20:29)—tetapi sebelum mengatakan itu, Dia terlebih dahulu menunjukkan bukti kepada Tomas yang meragukan.
Di tengah kota Jakarta yang keras ini, mari kita datang kepada Allah apa adanya—dengan semua pertanyaan, keraguan, dan pergumulan kita. Karena ternyata, itu adalah tempat di mana iman yang sejati dimulai.
Kami mengundang Anda untuk bergabung dengan komunitas kami di GKBJ Taman Kencana, di mana pertanyaan jujur disambut dan keraguan dilihat sebagai langkah awal menuju iman yang lebih dalam. Kunjungi ibadah kami dan temukan bahwa Anda tidak perlu menyembunyikan keraguan untuk diterima oleh Allah dan komunitas-Nya.
GKBJ Taman Kencana
This article was written to inspire and equip you in your faith journey.
Read More Articles