Pernikahan: Bukan tentang Kebahagiaan, tetapi tentang Kekudusan - Renungan Kristen untuk Keluarga Jakarta

Ilusi Pernikahan Modern di Jakarta
Di tengah gemerlap kehidupan Jakarta yang serba cepat, pernikahan telah menjadi komoditas yang dipasarkan dengan janji-janji kebahagiaan instan. Media sosial dipenuhi foto-foto "couple goals", sementara industri pernikahan menjanjikan "hari terbahagia dalam hidup Anda." Namun realitas yang kita saksikan? Tingkat perceraian yang terus meningkat, bahkan di kalangan Kristen.
Mengapa hal ini terjadi? Karena kita telah membeli mitos berbahaya: bahwa pernikahan ada untuk membuat kita bahagia.
Panggilan yang Lebih Tinggi: Kekudusan
Alkitab mengungkapkan kebenaran yang mengejutkan tentang pernikahan. Paulus menulis, "Suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya bagi jemaat itu untuk menguduskannya" (Efesus 5:25-26).
Perhatikan dengan seksama: tujuan utama bukan kebahagiaan, tetapi pengudusan. Kristus tidak menikahi gereja untuk bahagia, tetapi untuk menguduskannya. Demikian pula, Allah mendesain pernikahan bukan sebagai pusat hiburan, melainkan sebagai bengkel karakter.
Ini bukan berarti pernikahan Kristen suram atau tidak menyenangkan. Sebaliknya, ketika kita memahami tujuan sejati pernikahan, kita menemukan kebahagiaan yang lebih dalam dan berkelanjutan—kebahagiaan yang tidak bergantung pada perasaan atau keadaan.
Paradoks yang Mengubah Hidup
Inilah paradoks yang indah: ketika kita berhenti mencari kebahagiaan dalam pernikahan dan mulai mencari kekudusan, kita justru menemukan kebahagiaan sejati. Mengapa? Karena kekudusan berarti menjadi seperti Kristus, dan Kristus adalah sumber kebahagiaan yang tidak akan pernah mengecewakan.
Di Jakarta, kita sering melihat pasangan yang terjebak dalam siklus kekecewaan. Mereka menikah dengan ekspektasi tinggi untuk kebahagiaan, namun ketika realitas kehidupan rumah tangga datang—stress kerja, masalah finansial, perbedaan karakter—mereka merasa tertipu. "Ini bukan yang saya harapkan dari pernikahan."
Tetapi pasangan yang memahami panggilan kekudusan merespons berbeda. Mereka melihat konflik sebagai kesempatan untuk bertumbuh dalam kasih. Mereka melihat perbedaan sebagai alat Allah untuk mengikis ego dan membentuk karakter Kristus.
Bengkel Karakter di Tengah Hiruk Pikuk Jakarta
Bayangkan pernikahan sebagai bengkel karakter yang dikelola langsung oleh Allah. Setiap gesekan, setiap perbedaan pendapat, setiap momen sulit adalah pahat yang Allah gunakan untuk memahat karakter Kristus dalam hidup kita.
Seorang suami di Jakarta yang sibuk dengan tuntutan karir belajar mengasihi tanpa syarat ketika istrinya mengalami depresi pascamelahirkan. Seorang istri belajar tentang pengampunan ketika suaminya membuat kesalahan finansial yang merugikan keluarga. Inilah kekudusan dalam aksi—bukan kesempurnaan moral, tetapi transformasi karakter melalui kasih karunia.
Khotbah Kristen untuk Keluarga Modern
Dalam renungan harian Kristen ini, kita perlu memahami bahwa pernikahan adalah miniatur dari hubungan Kristus dengan gereja. Kristus tidak mengasihi gereja karena gereja sempurna atau selalu membuat-Nya bahagia. Sebaliknya, Kristus mengasihi gereja dengan komitmen yang tidak bersyarat, dengan tujuan untuk menguduskannya.
Demikian pula, pernikahan Kristen bukan tentang menemukan "belahan jiwa" yang sempurna, tetapi tentang berkomitmen untuk saling menguduskan melalui kasih yang rela berkorban. Ini adalah bible study praktis yang terjadi setiap hari dalam kehidupan rumah tangga.
Harapan untuk Pernikahan yang Terluka
Bagi mereka yang pernikahannya sedang mengalami badai, kabar baik ini: Allah tidak memanggil Anda untuk bahagia, tetapi untuk kudus. Dan dalam kekudusan itu, Anda akan menemukan kebahagiaan yang lebih mendalam daripada yang pernah Anda bayangkan.
Kristus tidak menyerah pada gereja ketika gereja mengecewakan-Nya. Ia tetap berkomitmen pada proses pengudusan. Demikian pula, ketika kita memahami pernikahan sebagai panggilan kekudusan, kita memiliki motivasi yang lebih kuat untuk bertahan dan bertumbuh, bahkan dalam masa-masa sulit.
Komunitas yang Mendukung Pernikahan Kudus
Di GKBJ Taman Kencana, kami percaya bahwa pernikahan yang sehat tidak bisa dibangun dalam isolasi. Kita membutuhkan komunitas iman yang mendukung dan mendorong kita dalam perjalanan kekudusan ini. Melalui berbagai kegiatan keluarga dan konseling pastoral, kami berkomitmen untuk mendampingi pasangan-pasangan dalam memahami dan menjalani panggilan mulia ini.
Pernikahan bukan tentang menemukan orang yang tepat, tetapi tentang menjadi orang yang tepat—orang yang semakin hari semakin mencerminkan karakter Kristus. Dan dalam proses menjadi orang yang tepat itu, kita menemukan kebahagiaan yang sejati, kebahagiaan yang berakar pada kasih karunia Allah, bukan pada performa pasangan kita.
Inilah undangan Allah bagi setiap pasangan: berhentilah mengejar kebahagiaan dalam pernikahan, dan mulailah mengejar kekudusan. Karena di situlah kebahagiaan sejati ditemukan.
GKBJ Taman Kencana
This article was written to inspire and equip you in your faith journey.
Read More Articles