Skip to main content
Back to Articles
DevotionalFebruary 14, 2026

Mengapa Orang Baik Menderita? Melihat Penderitaan Melalui Lensa Salib - GKBJ Taman Kencana Jakarta

Mengapa Orang Baik Menderita? Melihat Penderitaan Melalui Lensa Salib - GKBJ Taman Kencana Jakarta

Di tengah hiruk pikuk Jakarta yang tak pernah berhenti, kita sering bertemu dengan kisah-kisah yang membuat hati kita bertanya-tanya: Mengapa? Seorang ibu tunggal yang bekerja keras dipecat tanpa alasan yang jelas. Seorang ayah yang taat beribadah didiagnosis kanker stadium lanjut. Seorang remaja yang rajin mengikuti ibadah minggu Jakarta kehilangan orangtuanya dalam kecelakaan. Pertanyaan klasik ini terus bergema: "Jika Allah baik, mengapa orang baik menderita?"

Krisis Keadilan dalam Kehidupan Urban

Kehidupan di kota besar seperti Jakarta seringkali memperjelas kontras antara harapan dan kenyataan. Kita bekerja keras, bermoral baik, peduli sesama, namun tetap menghadapi kekecewaan, ketidakadilan, bahkan tragedi. Sementara itu, kita melihat orang-orang yang hidup tanpa prinsip justru tampak makmur dan bahagia.

Dalam kultur urban yang kompetitif, penderitaan orang baik terasa sangat mengganggu karena bertentangan dengan logika "sebab-akibat" yang kita anut. Kita percaya bahwa kerja keras akan berbuah kesuksesan, kebaikan akan dibalas kebaikan. Ketika formula ini tidak berlaku, kita merasa seperti Ayub yang berteriak: "Mengapa aku tidak mati sejak dari kandungan?" (Ayub 3:11).

Jawaban yang Tidak Memuaskan

Berbagai jawaban konvensional sering kali justru menambah luka:

"Semua terjadi karena kehendak Allah" - Jawaban ini membuat Allah tampak kejam dan semena-mena.

"Pasti ada dosa tersembunyi" - Ini hanya menambah beban rasa bersalah pada yang sudah menderita.

"Allah sedang menguji imanmu" - Seolah-olah Allah adalah guru sadis yang senang menyiksa murid-Nya.

"Bersyukurlah, masih ada yang lebih menderita" - Minimalisasi penderitaan tidak pernah menghibur.

Semua jawaban ini, meskipun mungkin mengandung fragmen kebenaran, gagal menyentuh akar permasalahan dan justru dapat merusak iman.

Salib: Paradoks yang Mengubah Segalanya

Namun Injil menawarkan perspektif yang sama sekali berbeda dan mengejutkan. Di salib, kita melihat Orang yang paling baik dalam sejarah - Yesus Kristus yang tanpa dosa - mengalami penderitaan yang paling ekstrem. Dia yang tidak pernah berbuat salah, justru mati dalam cara yang paling memalukan dan menyakitkan.

Ini bukan jawaban yang mudah atau menenangkan dalam pengertian konvensional. Tetapi justru di sinilah letak keunikan iman Kristen: Allah tidak menjelaskan penderitaan dengan argumen filosofis, melainkan dengan masuk langsung ke dalam penderitaan.

Solidaritas yang Mengubah Makna

Ketika kita melihat Kristus di salib, kita menyadari bahwa Allah bukan penonton yang acuh terhadap penderitaan manusia. Dia adalah Allah yang ikut menderita. Setiap air mata yang kita tumpahkan, setiap rasa sakit yang kita alami, telah lebih dahulu dirasakan oleh Kristus.

Ibrani 4:15 mengatakan, "Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai dalam segala hal, hanya tidak berbuat dosa."

Dalam budaya Jakarta yang individualistik, di mana penderitaan sering kali membuat kita merasa terisolasi, kebenaran ini memberikan penghiburan mendalam: kita tidak sendirian.

Penderitaan sebagai Jalan Menuju Kemuliaan

Tetapi salib tidak berhenti pada solidaritas. Kebangkitan Kristus menunjukkan bahwa penderitaan bukanlah akhir cerita. Paulus menulis dalam Roma 8:17-18: "Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia. Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita."

Ini bukan doktrin "health and wealth" yang menjanjikan kehidupan tanpa masalah. Sebaliknya, ini adalah janji yang lebih dalam: penderitaan saat ini, betapapun beratnya, tidak sebanding dengan kemuliaan yang menanti.

Transformasi Karakter di Tengah Penderitaan

Dalam konteks studi Alkitab Jakarta dan ibadah keluarga Jakarta, kita sering menemukan bahwa penderitaan justru menjadi wadah di mana karakter Kristus dibentuk dalam diri kita. Penderitaan tidak otomatis membuat kita menjadi lebih baik, tetapi ketika dikombinasikan dengan kasih karunia Allah, ia dapat menghasilkan:

  • Empati yang lebih dalam terhadap penderitaan orang lain
  • Ketergantungan yang lebih besar kepada Allah daripada kepada kekuatan sendiri
  • Perspektif yang lebih benar tentang apa yang benar-benar penting dalam hidup
  • Pengharapan yang lebih kuat pada janji-janji Allah

Hidup dengan Misteri yang Bermakna

Kekristenan tidak memberikan jawaban lengkap tentang mengapa orang baik menderita. Yang diberikannya adalah sesuatu yang lebih berharga: makna di tengah misteri. Kita mungkin tidak mengerti mengapa, tetapi kita tahu bahwa:

  1. Allah mengasihi kita - terbukti dengan pengorbanan Kristus
  2. Allah beserta kita - dalam penderitaan yang paling gelap sekalipun
  3. Allah akan memulihkan segala sesuatu - pada akhirnya keadilan dan damai sejahtera akan tegak

Komunitas yang Menderita Bersama

Di GKBJ Taman Kencana, kami percaya bahwa penderitaan tidak dimaksudkan untuk ditanggung sendirian. Tubuh Kristus dipanggil untuk saling menopang, menangis bersama yang menangis, dan menjadi tangan dan kaki Kristus bagi mereka yang menderita.

Dalam kehidupan urban yang sering kali individualistik, gereja menjadi ruang di mana kita dapat jujur tentang pergumulan kita dan menemukan dukungan yang autentik dari saudara seiman.


Pertanyaan tentang mengapa orang baik menderita mungkin tidak akan pernah terjawab sepenuhnya di dunia ini. Tetapi di salib, kita menemukan sesuatu yang lebih berharga daripada jawaban: kita menemukan Allah yang menderita bersama kita dan janji bahwa penderitaan ini tidak akan berlangsung selamanya.

Jika Anda sedang bergumul dengan pertanyaan ini, Anda tidak sendirian. Kami mengundang Anda untuk bergabung dalam ibadah minggu kami, di mana bersama-sama kita dapat menemukan penghiburan dan kekuatan dalam kasih karunia yang tak pernah berubah. Mari kita belajar melihat penderitaan bukan sebagai bukti ketidakadilan Allah, melainkan sebagai panggilan untuk bergantung lebih dalam pada kasih karunia-Nya yang sempurna.

Share Article

GKBJ Taman Kencana

This article was written to inspire and equip you in your faith journey.

Read More Articles
Service Times
Get Directions
Call Us
WhatsApp

Service Times

Sunday

General Service: 07:00 & 09:30

Youth Service: 17:00

Sunday School: 09:30

Wednesday

Prayer Meeting: 18:00