Skip to main content
Back to Articles
DevotionalFebruary 21, 2026

Keraguan yang Jujur: Bagaimana Bertanya kepada Allah Tanpa Kehilangan Iman - GKBJ Taman Kencana Jakarta

Keraguan yang Jujur: Bagaimana Bertanya kepada Allah Tanpa Kehilangan Iman - GKBJ Taman Kencana Jakarta

Ketika Iman Bertemu dengan Keraguan di Tengah Hiruk-Pikuk Jakarta

Di tengah kemacetan Jakarta Barat yang tak berujung, dalam perjalanan pulang dari kantor yang melelahkan, mungkin Anda pernah bertanya dalam hati: "Tuhan, apakah Engkau benar-benar peduli dengan hidup saya?" Atau saat melihat berita tentang ketidakadilan yang merajalela: "Di mana Allah ketika yang lemah tertindas?"

Pertanyaan-pertanyaan ini bukanlah tanda kegagalan iman. Justru sebaliknya—keraguan yang jujur adalah bagian integral dari iman yang matang. Namun budaya gereja sering kali membuat kita merasa bersalah ketika memiliki keraguan, seolah-olah iman sejati tidak boleh mempertanyakan apapun.

Keraguan Bukanlah Musuh Iman

Dalam budaya Jakarta yang kompetitif dan cepat, kita terbiasa menyembunyikan kelemahan. Kita mengenakan topeng kesempurnaan di media sosial, berpura-pura bahwa hidup kita selalu baik-baik saja. Sayangnya, kebiasaan ini juga terbawa ke dalam kehidupan rohani kita.

Tetapi Alkitab memberikan perspektif yang sangat berbeda. Lihatlah Ayub, yang dalam penderitaan luar biasa, berani mempertanyakan keadilan Allah: "Mengapa terang diberikan kepada yang menderita, dan hidup kepada yang sakit hati?" (Ayub 3:20). Atau Yeremia yang mengeluh: "Mengapa jalanku selalu sukar? Mengapa lukaku tidak dapat sembuh?" (Yeremia 15:18).

Yang mengejutkan, Allah tidak menghukum mereka karena pertanyaan-pertanyaan ini. Justru, Dia merespons dengan kesabaran dan akhirnya menyatakan diri-Nya dengan cara yang lebih dalam.

Ketika Mazmur Menjadi Teman dalam Kegelapan

Daud, "orang yang berkenan di hati Allah," menulis beberapa mazmur paling jujur dalam Alkitab. Dalam Mazmur 13, ia bertanya empat kali: "Berapa lama, ya TUHAN?" Ia merasa ditinggalkan, terlupakan, dan dalam kegelapan.

Namun perhatikan bagaimana mazmur itu berakhir: "Tetapi aku ini percaya akan kasih setia-Mu, hatiku bersorak karena penyelamatan-Mu" (Mazmur 13:5). Daud tidak beranjak dari keraguan langsung ke kepastian. Ia bergerak dari keraguan yang jujur menuju kepercayaan yang dipilih—sebuah iman yang lebih kuat karena telah diuji.

Yesus Memahami Keraguan Kita

Yang paling mengejutkan adalah bahwa Yesus sendiri, di kayu salib, mengutip mazmur keraguan: "Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" (Matius 27:46). Dalam momen paling gelap dalam sejarah, Anak Allah mengalami perasaan ditinggalkan.

Ini berarti ketika kita mengalami keraguan—entah karena PHK mendadak, hubungan yang hancur, atau diagnosa medis yang mengejutkan—kita tidak sendirian. Yesus telah lebih dulu merasakan kegelapan itu. Dia tidak menghakimi keraguan kita; Dia memahaminya dari dalam.

Keraguan yang Sehat vs. Keraguan yang Destruktif

Tidak semua keraguan itu sama. Ada perbedaan antara keraguan yang jujur dan skeptisisme yang sombong. Keraguan yang sehat lahir dari kerinduan akan kebenaran dan kedekatan dengan Allah. Skeptisisme yang destruktif lahir dari keangkuhan intelektual atau keinginan untuk otonom dari Allah.

Thomas, murid Yesus, sering disebut "si pembenci keraguan." Tetapi ketika ia berkata, "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya... aku tidak akan percaya" (Yohanes 20:25), itu bukan penolakan terhadap Allah—itu adalah kerinduan yang mendalam untuk kepastian.

Dan bagaimana Yesus merespons? Dengan kelembutan. Dia datang kepada Thomas, menunjukkan luka-luka-Nya, dan berkata, "Jangan engkau tidak percaya, tetapi percayalah" (Yohanes 20:27). Tidak ada teguran keras, hanya undangan yang lembut.

Mengubah Pertanyaan Kita

Dalam studi Alkitab yang mendalam, kita belajar bahwa masalahnya bukan bahwa kita bertanya, tetapi bagaimana kita bertanya. Alih-alih bertanya "Mengapa Allah membiarkan ini terjadi?" kita bisa bertanya "Bagaimana Allah ingin membentuk saya melalui ini?" atau "Di mana saya bisa melihat kasih-Nya bahkan dalam situasi yang sulit ini?"

Perubahan perspektif ini bukan berarti kita menyangkal kenyataan penderitaan. Di Jakarta yang keras ini, kita tidak bisa berpura-pura bahwa hidup mudah. Tetapi kita mengubah posisi kita—dari hakim yang menuntut penjelasan menjadi anak yang mencari pengertian.

Komunitas yang Aman untuk Keraguan

Di GKBJ Taman Kencana, kami percaya bahwa gereja harus menjadi tempat yang aman untuk mengajukan pertanyaan yang sulit. Dalam komunitas orang percaya yang sehat, keraguan tidak ditutupi tetapi dibawa ke dalam terang—dibagikan, direnungkan bersama, dan diserahkan kepada Allah dalam doa.

Ketika kita menghadiri ibadah dan kegiatan gereja, kita tidak datang dengan topeng kesempurnaan. Kita datang sebagaimana adanya—dengan iman dan keraguan, dengan pengharapan dan ketakutan, dengan syukur dan pertanyaan.

Iman yang Diperdalam oleh Keraguan

Paradoks indah dari iman Kristen adalah bahwa keraguan yang jujur justru dapat memperdalam iman kita. Seperti emas yang dimurnikan dalam api, iman yang telah diuji melalui pertanyaan-pertanyaan sulit menjadi lebih kuat dan lebih otentik.

C.S. Lewis pernah berkata bahwa Allah "berbisik dalam kesukaan kita, berbicara dalam hati nurani kita, tetapi berteriak dalam penderitaan kita." Kadang-kadang, justru dalam momen keraguan yang paling dalam, kita mendengar suara Allah dengan paling jelas.

Mengundang Allah dalam Keraguan

Jadi bagaimana kita menghadapi keraguan dengan sehat? Pertama, jangan menyangkalnya. Akui pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam hati Anda. Kedua, bawa keraguan itu dalam doa—Allah tidak takut dengan pertanyaan kita. Ketiga, carilah hikmat dalam Kitab Suci dan dalam komunitas orang percaya yang dewasa.

Yang paling penting, ingatlah bahwa iman bukanlah ketiadaan keraguan, tetapi pilihan untuk percaya meskipun ada keraguan. Iman adalah keputusan untuk berpegang pada karakter Allah yang tidak berubah ketika segalanya tampak tidak pasti.

Di tengah kompleksitas hidup di kota metropolitan seperti Jakarta Barat, kita semua membutuhkan tempat yang aman untuk bergumul dengan pertanyaan-pertanyaan besar kehidupan. GKBJ Taman Kencana mengundang Anda untuk bergabung dalam perjalanan iman yang jujur ini—sebuah komunitas di mana keraguan tidak ditakuti tetapi diarahkan menuju Dia yang adalah Jalan, Kebenaran, dan Hidup.

Share Article

GKBJ Taman Kencana

This article was written to inspire and equip you in your faith journey.

Read More Articles
Service Times
Get Directions
Call Us
WhatsApp

Service Times

Sunday

General Service: 07:00 & 09:30

Youth Service: 17:00

Sunday School: 09:30

Wednesday

Prayer Meeting: 18:00