Kebenaran yang Mengejutkan: Allah Mengasihi Kita Bukan Karena Kita Baik - Khotbah Kristen Jakarta

Dalam kehidupan kota Jakarta yang serba kompetitif, kita terbiasa dengan sistem merit - prestasi menentukan penghargaan, kerja keras menghasilkan promosi, nilai tinggi mendapat pujian. Tidak heran jika mentalitas ini merembes ke dalam pemahaman kita tentang Allah. Kita secara tidak sadar berpikir: "Allah akan mengasihi saya jika saya cukup baik, cukup rajin beribadah, cukup dermawan."
Namun Injil memberikan kita kebenaran yang benar-benar mengejutkan dan membalikkan logika dunia ini.
Logika Dunia vs Logika Injil
Di tengah hiruk-pikuk Jakarta, dari mal-mal mewah PIK hingga kawasan bisnis Sudirman, kita menyaksikan bagaimana masyarakat urban hidup dalam sistem transaksional. Hubungan kerja, bisnis, bahkan pertemanan sering kali dibangun atas dasar mutual benefit. Apa yang bisa saya berikan, apa yang akan saya terima.
Mentalitas ini tanpa disadari kita bawa ke dalam hubungan dengan Allah. Kita berpikir kasih-Nya conditional - bergantung pada performance kita. Ketika kita gagal, kita merasa Allah kecewa. Ketika kita berbuat baik, kita merasa berhak atas berkat-Nya.
Namun Roma 5:8 mengatakan sesuatu yang radikal: "Tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa."
Perhatikan timing-nya: "ketika kita masih berdosa." Bukan setelah kita berubah, bukan ketika kita layak, tetapi justru di tengah keberdosaan kita.
Kasih Tanpa Prasyarat di Tengah Kota yang Penuh Syarat
Ketika Prestasi Tidak Cukup
Banyak dari kita di Jakarta hidup dalam tekanan konstan untuk berprestasi. Di kantor, kita berlomba untuk mendapat apresiasi atasan. Di media sosial, kita berusaha memproyeksikan hidup yang sempurna. Bahkan di gereja, kita terkadang merasa harus tampil sebagai "orang Kristen yang baik."
Ketika kita gagal memenuhi standar yang kita tetapkan untuk diri sendiri, perasaan bersalah dan tidak layak menghantui kita. Di sinilah Injil berbicara dengan suara yang lembut namun revolusioner: Allah tidak mengasihi kita karena kita baik. Dia mengasihi kita meskipun kita tidak baik.
Ketika Kesepian Menyerang di Tengah Keramaian
Jakarta adalah kota yang penuh dengan manusia, namun banyak yang merasa kesepian. Dalam keramaian mal, dalam kemacetan, bahkan dalam gathering kantor, kita bisa merasa sangat sendirian. Perasaan ini sering kali dipicu oleh ketakutan bahwa kita tidak cukup menarik, tidak cukup sukses, tidak cukup... baik.
Injil berkata: Allah mengenal kita sepenuhnya - termasuk sisi tergelap kita yang tidak pernah kita tunjukkan di Instagram - dan tetap mengasihi kita dengan kasih yang tidak akan pernah berubah.
Mengapa Kebenaran Ini Begitu Sulit Diterima?
Pride dan Kebutuhan untuk Merasa Layak
Sebagai manusia, kita memiliki kebanggaan yang mendalam. Kita ingin percaya bahwa kita layak dikasihi karena siapa kita atau apa yang kita lakukan. Ide bahwa kita dikasihi meskipun kita tidak layak merendahkan ego kita, tetapi sekaligus membebaskan kita dari beban yang tidak mungkin dipikul.
Fear dan Ketakutan akan Penolakan
Di sisi lain, kita takut bahwa jika Allah benar-benar mengenal kita, Dia akan menolak kita. Kita mencoba menyembunyikan kegagalan kita, berharap bisa "memperbaiki diri" terlebih dahulu sebelum datang kepada-Nya.
Namun 1 Yohanes 4:18 mengingatkan: "Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan."
Transformasi yang Mengikuti Kasih Tanpa Syarat
Bukan License untuk Berbuat Dosa
Beberapa orang khawatir: jika Allah mengasihi kita tanpa syarat, bukankah ini memberi kita kebebasan untuk berbuat sesuka hati? Paulus mengantisipasi keberatan ini dalam Roma 6:1-2: "Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya kasih karunia bertambah banyak? Sekali-kali tidak!"
Ketika kita benar-benar memahami betapa besar kasih Allah kepada kita, respons alamiah kita bukanlah memanfaatkan kasih itu, tetapi hidup yang berterima kasih dan ingin menyenangkan hati-Nya.
Liberation dari Performance Anxiety
Di tengah tekanan urban Jakarta, banyak dari kita hidup dalam anxiety yang konstan - anxiety untuk perform, untuk impress, untuk memenuhi ekspektasi. Khotbah Kristen yang sejati membebaskan kita dari beban ini.
Ketika kita tahu bahwa kasih Allah tidak bergantung pada performance kita, kita bisa hidup dengan lebih autentik, lebih damai, dan ironisnya, sering kali menjadi lebih produktif karena tidak lagi digerakkan oleh ketakutan tetapi oleh rasa syukur.
Hidup dalam Kebenaran yang Mengejutkan Ini
Dalam Kegagalan
Ketika proyek di kantor gagal, ketika hubungan retak, ketika kita mengecewakan orang lain atau diri sendiri, kita tidak perlu bersembunyi dari Allah. Kita bisa datang kepada-Nya dengan jujur, mengetahui bahwa kasih-Nya tidak berubah.
Dalam Kesuksesan
Ketika kita berhasil, ketika karier menanjak, ketika hidup berjalan lancar, kita tidak boleh berpikir bahwa ini karena kita layak. Kesuksesan bukanlah bukti bahwa Allah mengasihi kita lebih, sama seperti kegagalan bukan bukti bahwa Allah mengasihi kita kurang.
Dalam Komunitas
Kebenaran ini mengubah cara kita berelasi dengan sesama. Ketika kita tahu bahwa kita dikasihi bukan karena kebaikan kita, kita bisa mengasihi orang lain bukan karena mereka layak, tetapi karena kasih Allah mengalir melalui kita.
Di komunitas Kristen Jakarta seperti GKBJ Taman Kencana, kita belajar untuk menjadi tempat yang aman bagi mereka yang merasa tidak layak, yang gagal, yang terluka. Kita menjadi komunitas yang mencerminkan kasih Allah yang tanpa syarat.
Undangan untuk Merespons
Kebenaran yang mengejutkan ini bukan hanya konsep teologis untuk diperdebatkan, tetapi kenyataan yang mengundang respons. Allah mengasihi Anda hari ini - bukan karena Anda sempurna, bukan karena Anda sudah "fix" semua masalah hidup Anda, bukan karena Anda sudah cukup baik.
Dia mengasihi Anda karena Dia memilih untuk mengasihi Anda. Kristus mati untuk Anda ketika Anda masih berdosa, menunjukkan bahwa kasih Allah mendahului dan menghasilkan kebaikan kita, bukan sebaliknya.
Dalam kehidupan Jakarta yang penuh tuntutan dan ekspektasi, undangan ini terasa seperti napas segar: datanglah sebagaimana adanya Anda. Allah sudah tahu siapa Anda sebenarnya, dan Dia tetap mengasihi Anda.
Inilah Injil - good news yang benar-benar mengejutkan dan mengubah segalanya.
GKBJ Taman Kencana
This article was written to inspire and equip you in your faith journey.
Read More Articles