Keadilan dan Belas Kasihan: Dua Sayap yang Tidak Bisa Dipisahkan dalam Komunitas Jakarta

Pernahkah Anda terjebak dalam kemacetan di persimpangan Slipi sambil melihat anak jalanan mengetuk kaca mobil? Di satu sisi, hati kita tergerak kasihan. Di sisi lain, pikiran kita bertanya: apakah memberi uang benar-benar membantu atau justru melanggengkan sistem yang tidak adil? Inilah dilema yang sering kita hadapi sebagai komunitas Kristen di Jakarta—bagaimana menyeimbangkan belas kasihan dan keadilan?
Dikotomi Palsu yang Memecah Belah
Dalam budaya modern Jakarta, kita sering dipaksa memilih: apakah kita tipe orang yang "berperasaan" atau "rasional"? Yang mengutamakan belas kasihan atau keadilan? Polarisasi ini meresap ke dalam gereja di Jakarta, menciptakan perpecahan antara yang fokus pada pelayanan sosial dan yang fokus pada transformasi sistemik.
Namun Injil menunjukkan bahwa ini adalah dikotomi palsu. Seperti yang ditulis Mikha 6:8, Tuhan menghendaki kita "berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu." Keadilan dan kesetiaan (atau belas kasihan) bukan dua pilihan terpisah—keduanya adalah panggilan tunggal.
Yesus: Model Sempurna Keseimbangan
Lihatlah bagaimana Yesus menghadapi perempuan yang kedapatan berzina (Yohanes 8:1-11). Para ahli Taurat dan orang Farisi mencoba menjebak-Nya: "Hukum Musa memerintahkan untuk melempari perempuan seperti ini. Engkau sendiri bagaimana?"
Mereka mengira Yesus harus memilih antara keadilan (menghukum dosa) atau belas kasihan (mengampuni). Namun respons Yesus mengejutkan: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepadanya."
Yesus tidak mengorbankan keadilan demi belas kasihan, atau sebaliknya. Ia mengungkapkan keadilan yang lebih dalam—bahwa semua orang berdosa dan membutuhkan pengampunan. Sekaligus menunjukkan belas kasihan yang radikal—"Aku pun tidak menghukum engkau."
Realitas Jakarta: Arena untuk Keadilan dan Belas Kasihan
Jakarta adalah kota kontras yang ekstrem. Di kawasan Sudirman-Thamrin, gedung pencakar langit berdampingan dengan pemukiman kumuh. Di mall-mall mewah PIK, orang membelanjakan jutaan rupiah sementara di sekitar Cengkareng masih banyak keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.
Sebagai komunitas pemuda Kristen Jakarta, kita tidak bisa menutup mata terhadap realitas ini. Namun pertanyaannya: bagaimana merespons dengan cara yang mencerminkan karakter Kristus?
Belas Kasihan Tanpa Keadilan: Berpotensi Merugikan
Memberi bantuan tanpa mempertimbangkan keadilan bisa kontraproduktif. Misalnya, memberikan uang kepada anak jalanan tanpa mempertanyakan mengapa mereka ada di jalan bisa melanggengkan eksploitasi. Atau memberikan bantuan yang menciptakan ketergantungan tanpa memberdayakan.
Dalam konteks gereja di Jakarta, kadang kita terjebak dalam "charity mentality"—merasa sudah cukup dengan memberikan bantuan sesekali tanpa terlibat dalam perubahan struktural yang lebih mendalam.
Keadilan Tanpa Belas Kasihan: Dingin dan Legalistik
Di sisi lain, fokus pada keadilan tanpa belas kasihan bisa menghasilkan aktivisme yang dingin. Kita bisa begitu marah pada ketidakadilan sistemik hingga lupa bahwa di balik setiap "sistem" ada manusia yang juga membutuhkan kasih dan pengampunan.
Keadilan tanpa belas kasihan juga rentan menjadi legalistik—menghakimi tanpa memahami kompleksitas situasi. Kita bisa begitu keras menuntut keadilan hingga lupa bahwa kita sendiri juga membutuhkan pengampunan.
Injil sebagai Fondasi Integrasi
Injil memberikan fondasi untuk mengintegrasikan keadilan dan belas kasihan. Salib menunjukkan bagaimana Allah adalah Allah yang adil dan pengasih sekaligus. Dalam salib, keadilan Allah dipuaskan (dosa dihukum), namun belas kasihan-Nya juga dinyatakan (kita diampuni).
Karena kita telah menerima keadilan dan belas kasihan Allah, kita dipanggil untuk menjadi agen keduanya di dunia. Sebagai komunitas yang telah mengalami transformasi Injil, kita tidak bisa puas dengan status quo yang tidak adil, namun juga tidak bisa merespons dengan kemarahan yang tidak pengasih.
Langkah Praktis dalam Komunitas
1. Membangun Kesadaran yang Utuh
Sebagai gereja Cengkareng yang melayani komunitas urban, kita perlu membangun kesadaran yang melihat masalah sosial secara utuh—baik aspek struktural maupun personal. Ketika melihat kemiskinan, kita bertanya tidak hanya "bagaimana membantu" tapi juga "mengapa ini terjadi."
2. Pelayanan yang Transformatif
Ministries gereja perlu dirancang tidak hanya memberikan bantuan, tapi juga memberdayakan. Program pendidikan, pelatihan keterampilan, atau koperasi simpan-pinjam adalah contoh pelayanan yang mengintegrasikan belas kasihan dan keadilan.
3. Advokasi dengan Kasih
Terlibat dalam advokasi untuk kebijakan yang lebih adil, namun dengan hati yang penuh kasih. Mengkritik sistem yang tidak adil tanpa mengutuk individu yang terlibat di dalamnya.
Panggilan untuk Generasi Jakarta
Generasi muda Kristen Jakarta memiliki kesempatan unik. Kita hidup di era di mana kesadaran akan keadilan sosial semakin tinggi, namun juga di tengah polarisasi yang semakin tajam. Injil mengundang kita untuk menjadi jembatan—menunjukkan bahwa kasih Kristus mencakup baik keadilan maupun belas kasihan.
Seperti burung yang membutuhkan dua sayap untuk terbang, komunitas Kristen membutuhkan keadilan dan belas kasihan untuk menjadi berkat bagi Jakarta. Ketika kedua aspek ini bekerja bersama, kita menjadi saksi yang kredibel bagi Kristus yang adalah Raja yang adil sekaligus Gembala yang pengasih.
Apakah Anda siap menjadi bagian dari komunitas yang hidup dengan integritas ini? Contact Us untuk bergabung dalam perjalanan transformasi yang dimulai dari hati yang telah diubah oleh Injil, dan meluas menjadi dampak nyata bagi Jakarta yang kita kasihi.
GKBJ Taman Kencana
This article was written to inspire and equip you in your faith journey.
Read More Articles