Calling dan Karir: Menemukan Panggilan Allah di Tengah Hiruk Pikuk Jakarta

Setiap pagi, jutaan pekerja di Jakarta memulai perjalanan mereka menuju kantor-kantor pencakar langit, pabrik-pabrik, toko-toko, dan berbagai tempat kerja lainnya. Di antara mereka, ada ribuan orang Kristen yang bergumul dengan pertanyaan yang sama: "Apa hubungan antara iman saya dengan pekerjaan saya?"
Banyak dari kita merasa hidup dalam dua dunia terpisah. Di hari Minggu, kita bernyanyi tentang melayani Tuhan. Namun di hari Senin sampai Sabtu, kita merasa seperti hanya mencari nafkah dalam dunia "sekuler" yang tidak ada hubungannya dengan panggilan rohani kita.
Dikotomi yang Menyesatkan
Pemikiran yang memisahkan pekerjaan "rohani" dan "sekuler" sebenarnya tidak alkitabiah. Dikotomi ini menciptakan hierarki spiritual yang berbahaya: pastor dan misionaris di puncak, diikuti oleh guru sekolah minggu dan pelayan gereja, sedangkan pengusaha, karyawan, dan ibu rumah tangga berada di tingkat bawah.
Tetapi Injil memberi kita perspektif yang revolusioner. Allah tidak hanya memanggil sebagian kecil umat-Nya untuk pelayanan "penuh waktu." Dia memanggil setiap orang percaya untuk menjadi saksi-Nya di mana pun mereka berada.
Ketika Paulus menulis kepada jemaat di Kolose, dia berkata, "Dan apa pun juga yang kamu perbuat dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus" (Kolose 3:17). Perhatikan kata "apa pun" - ini termasuk pekerjaan kita di kantor, di pabrik, di rumah sakit, atau di mana pun.
Panggilan yang Mengejutkan
Di tengah Jakarta yang kompetitif dan materialistis, mudah bagi kita untuk melihat pekerjaan hanya sebagai cara mendapatkan uang atau status. Tetapi Injil mengundang kita untuk melihat dengan mata yang berbeda.
Pekerjaan sebagai Ibadah
Martin Luther pernah berkata bahwa seorang pelayan yang membersihkan gereja tidak melakukan pekerjaan yang lebih "rohani" daripada seorang ibu yang mengganti popok anaknya, jika keduanya dilakukan dalam iman untuk kemuliaan Allah.
Ini berarti ibadah keluarga Jakarta tidak hanya terjadi di dalam gedung gereja, tetapi juga ketika seorang ayah bekerja dengan integritas untuk menghidupi keluarganya, atau ketika seorang ibu mengajar anaknya dengan sabar.
Pekerjaan sebagai Pelayanan
Setiap pekerjaan yang sah adalah bentuk pelayanan kepada sesama. Ketika Anda bekerja sebagai dokter, Anda melayani dengan menyembuhkan. Ketika Anda bekerja sebagai guru, Anda melayani dengan mendidik. Bahkan ketika Anda bekerja di bidang bisnis, Anda melayani dengan menyediakan produk atau layanan yang dibutuhkan masyarakat.
Di Jakarta yang penuh dengan kesenjangan sosial, pekerjaan kita menjadi sarana Allah untuk memberkati dan melayani mereka yang membutuhkan.
Tantangan di Dunia Kerja Jakarta
Namun, menjalani panggilan Allah di dunia kerja Jakarta tidaklah mudah. Kita menghadapi berbagai tantangan:
Tekanan dan Kompetisi
Jakarta adalah kota yang tidak pernah tidur, di mana tekanan untuk sukses bisa sangat besar. Dalam lingkungan yang kompetitif, mudah untuk tergoda melakukan kompromi moral atau mengabaikan keluarga demi karir.
Tetapi Injil mengajarkan kita bahwa identitas kita bukan berdasarkan pencapaian kita, melainkan berdasarkan kasih Allah. Kita bekerja bukan karena harus membuktikan diri, tetapi karena sudah dibuktikan oleh Kristus.
Korupsi dan Ketidakadilan
Sistem bisnis dan birokrasi di Indonesia sering kali penuh dengan korupsi dan ketidakadilan. Sebagai orang Kristen, kita dipanggil untuk menjadi terang di tengah kegelapan, bahkan jika itu berarti mengambil jalan yang lebih sulit.
Materialisme dan Status
Dalam masyarakat yang mengukur kesuksesan dari harta dan jabatan, mudah untuk terjebak dalam mengejar yang fana dan melupakan yang kekal.
Menemukan Panggilan di Tempat Kerja
Bagaimana kita bisa menjalani panggilan Allah di tengah tantangan ini?
1. Bekerja dengan Integritas
Integritas bukan hanya tentang tidak mencuri atau berbohong. Ini tentang menjadi orang yang sama di kantor seperti di gereja. Ini tentang bekerja dengan keunggulan, tidak karena bos sedang mengawasi, tetapi karena kita bekerja untuk Tuhan (Kolose 3:23).
2. Menjadi Berkat bagi Rekan Kerja
Tempat kerja adalah ladang misi kita. Bukan untuk "menginjili" dengan cara yang mengganggu, tetapi untuk menjadi saksi melalui sikap, perkataan, dan perbuatan kita. Dalam pemuridan Kristen, kita belajar bahwa kesaksian terbaik sering kali bukan dari kata-kata, tetapi dari kehidupan yang berubah.
3. Menggunakan Talenta untuk Kemuliaan Allah
Allah memberi setiap orang talenta dan kemampuan yang unik. Entah itu kemampuan analitis, kreativitas, kepemimpinan, atau empati - semuanya bisa digunakan untuk melayani Allah dan sesama.
Hidup dalam Ketegangan yang Kreatif
Menjalani panggilan Allah di dunia kerja berarti hidup dalam ketegangan yang kreatif. Kita dipanggil untuk menjadi bagian dari dunia tanpa menjadi seperti dunia. Kita harus peduli dengan kesuksesan profesional tanpa menjadikannya berhala.
Ini bukan berarti kita harus menjadi sempurna. Justru dalam kelemahan dan pergumulan kita, kasih karunia Allah bersinar paling terang. Ketika kita mengakui bahwa kita tidak sempurna tetapi dikasihi, kita bisa menjadi saksi yang otentik bagi rekan kerja yang juga bergumul.
Komunitas yang Menguatkan
Menjalani panggilan Allah di dunia kerja tidak bisa dilakukan sendirian. Kita membutuhkan komunitas iman yang saling menguatkan dan mengingatkan tentang identitas kita di dalam Kristus.
Di GKBJ Taman Kencana, kami percaya bahwa gereja bukan hanya tempat kita berkumpul di hari Minggu, tetapi komunitas yang menguatkan satu sama lain untuk menjalani panggilan Allah di setiap aspek kehidupan, termasuk pekerjaan.
Panggilan Allah bukan hanya untuk para pastor atau misionaris. Dia memanggil setiap orang percaya untuk menjadi terang-Nya di tengah dunia ini. Di mana pun Allah menempatkan Anda - entah di kantor pencakar langit di Sudirman, pabrik di Cakung, atau rumah di Cengkareng - di situlah ladang misi Anda. Dan dalam perjalanan ini, Anda tidak sendirian. Ada komunitas iman yang siap berjalan bersama Anda.
GKBJ Taman Kencana
This article was written to inspire and equip you in your faith journey.
Read More Articles