Langsung ke konten utama
Kembali ke Artikel
Keluarga21 Januari 2026

Pernikahan: Bukan tentang Kebahagiaan, tetapi tentang Kekudusan

Pernikahan: Bukan tentang Kebahagiaan, tetapi tentang Kekudusan

Ilusi Kebahagiaan yang Menjanjikan Segalanya

Di Jakarta, kota metropolitan yang penuh dengan iklan pernikahan mewah dan instagram-worthy wedding moments, kita dibombardir dengan satu pesan konsisten: pernikahan adalah tentang kebahagiaan Anda. Vendor wedding berlomba menjanjikan "hari terindah dalam hidup Anda." Media sosial dipenuhi foto-foto pasangan yang "bahagia selamanya."

Namun, realitas di balik layar sering kali berbeda. Tingkat perceraian meningkat. Konseling pernikahan makin dicari. Banyak pasangan merasa tertipu—mereka sudah melakukan segalanya "dengan benar" untuk bahagia, namun tetap merasa hampa.

Mengapa? Karena kita salah memahami tujuan pernikahan dari awal.

Paradoks Injil: Kekudusan yang Membahagiakan

Dalam Efesus 5:25-27, Paulus menulis sesuatu yang mengejutkan: "Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya."

Perhatikan: Kristus mengasihi gereja bukan untuk membahagiakan diri-Nya, tetapi untuk menguduskan gereja. Inilah model pernikahan Kristen.

Kekudusan (holiness) dalam konteks pernikahan bukan berarti menjadi religius atau moralis. Kekudusan berarti dipisahkan untuk tujuan Allah—menjadi lebih seperti Kristus melalui hubungan pernikahan.

Counter-Intuitive: Kebahagiaan Melalui Penyangkalan Diri

Di dunia yang mengajarkan "cintai dirimu sendiri terlebih dahulu," Injil mengajarkan sebaliknya. Yesus berkata, "Barangsiapa hendak menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya" (Lukas 9:24).

Dalam pernikahan, ini berarti:

  • Bukan: "Apa yang bisa pasangan saya berikan untuk kebahagiaan saya?"
  • Tetapi: "Bagaimana saya bisa mengasihi pasangan saya seperti Kristus mengasihi saya?"

Ironisnya, ketika kita berhenti mengejar kebahagiaan sebagai tujuan utama, kita justru menemukan sukacita yang lebih dalam—sukacita yang berasal dari memberikan diri, bukan menerima.

Realitas Urban Jakarta: Ekspektasi vs Kenyataan

Hidup di Jakarta dengan segala tekanannya—macet, deadline kerja, biaya hidup tinggi—sering kali membuat pernikahan menjadi tempat pelarian. Kita mengharapkan pasangan menjadi sumber kebahagiaan di tengah chaos kehidupan urban.

Ekspektasi tidak realistis ini menciptakan tekanan besar pada pernikahan. Ketika pasangan tidak bisa memenuhi peran sebagai "sumber kebahagiaan utama," kekecewaan dan konflik muncul.

Injil menawarkan perspektif yang membebaskan: pernikahan bukanlah surga di bumi, tetapi gymnasium rohani—tempat Allah membentuk karakter kita menjadi lebih seperti Kristus.

Kekudusan dalam Praktik Sehari-hari

1. Mengampuni Seperti Diampuni

Ketika pasangan mengecewakan (dan pasti akan terjadi), respons kekudusan bukanlah "Aku berhak marah," tetapi "Kristus sudah mengampuni dosa-dosaku yang lebih besar."

2. Melayani Bukan Dilayani

Di tengah kesibukan Jakarta, mudah sekali kita mengharapkan pasangan memahami dan melayani kebutuhan kita. Kekudusan mengajarkan sebaliknya—mencari cara untuk melayani, meskipun lelah.

3. Komunikasi yang Membangun

Bukan berkomunikasi untuk menang atau membenarkan diri, tetapi untuk memahami dan membangun pasangan—seperti Kristus yang selalu berbicara kebenaran dalam kasih.

Mengapa Kekudusan Lebih Sustainable daripada Kebahagiaan

Kebahagiaan bergantung pada circumstance—pekerjaan lancar, kesehatan baik, finansial stabil. Ketika hal-hal ini berubah (dan pasti akan berubah), pernikahan yang dibangun di atas kebahagiaan akan goyah.

Kekudusan berbeda. Kekudusan adalah panggilan yang tidak berubah terlepas dari situasi. Bahkan dalam sakit, kemiskinan, atau krisis, kita tetap bisa mengasihi pasangan seperti Kristus mengasihi kita.

Ini bukan berarti pernikahan yang kudus tidak bahagia. Justru sebaliknya—pernikahan yang fokus pada kekudusan menghasilkan sukacita yang bertahan, bukan kebahagiaan yang temporary.

Praktik Konkret untuk Kegiatan Keluarga

Di GKBJ Taman Kencana, kami sering mengajak pasangan untuk:

  1. Doa Bersama Rutin: Bukan ritual religius, tetapi momen mengingat kasih Kristus yang mempersatukan
  2. Evaluasi Mingguan: "Bagaimana saya bisa mengasihi kamu lebih baik minggu ini?"
  3. Pelayanan Bersama: Terlibat dalam Pelayanan gereja sebagai pasangan untuk melihat tujuan yang lebih besar

Undangan yang Mengubah Segalanya

Jika Anda merasa pernikahan Anda "tidak sebahagia yang diharapkan," mungkin saatnya mengubah ekspektasi. Apa bila kita melihat pernikahan bukan sebagai jalan menuju kebahagiaan pribadi, tetapi sebagai panggilan kudus untuk saling membentuk menjadi lebih seperti Kristus?

Ini bukan berarti menurunkan standar, tetapi justru meningkatkan tujuan. Kebahagiaan adalah bonus, kekudusan adalah panggilan.

Bagi yang belum menikah di komunitas Jakarta, persiapkan diri bukan hanya untuk kebahagiaan, tetapi untuk panggilan kudus yang indah ini. Dan bagi yang sudah menikah, ingatlah: setiap hari adalah kesempatan baru untuk mengasihi seperti Kristus mengasihi—tanpa syarat, tanpa batas, dan tanpa pamrih.

Dalam perspektif Injil, pernikahan yang paling membahagiakan justru adalah pernikahan yang tidak menjadikan kebahagiaan sebagai tujuan utama, tetapi kekudusan. Dan itu, paradoksnya, adalah kabar baik yang luar biasa.

Bagikan Artikel

GKBJ Taman Kencana

Artikel ini ditulis untuk menginspirasi dan memperlengkapi Anda dalam perjalanan iman.

Baca Artikel Lainnya
Jadwal Ibadah
Petunjuk Arah
Telepon
WhatsApp

Jadwal Ibadah

Minggu

Ibadah Umum: 07:00 & 09:30

Ibadah Pemuda: 17:00

Sekolah Minggu: 09:30

Rabu

Doa Berkat: 18:00