Pernikahan Kristen: Bukan Tentang Kebahagiaan, Tetapi Tentang Kekudusan

Mitos Modern Tentang Pernikahan
Di Jakarta yang hiruk-pikuk ini, kita sering mendengar pasangan berkata, "Kami menikah karena saling membahagiakan." Media sosial penuh dengan foto-foto pernikahan glamor dengan caption "happily ever after." Konseling pranikah difokuskan pada kompatibilitas dan tips mencapai kebahagiaan bersama.
Namun, apa yang terjadi ketika kebahagiaan itu pudar? Ketika pasangan tidak lagi merasa "bahagia" bersama, apakah pernikahan otomatis berakhir?
Injil memberikan perspektif yang mengejutkan dan radikal: pernikahan bukan tentang kebahagiaan kita, tetapi tentang kekudusan kita.
Desain Ilahi yang Counter-Intuitive
Efesus 5:25-27 memberikan gambaran yang luar biasa: "Hai suami, kasihilah istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya... supaya Ia menempatkan jemaat di hadapan-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela."
Perhatikan: Kristus mengasihi gereja bukan karena gereja membuatnya bahagia, tetapi untuk menguduskan gereja. Cinta Kristus bersifat transformatif, bukan transaksional.
Inilah yang Allah inginkan dalam pernikahan kita. Pernikahan adalah "sekolah kekudusan" di mana dua orang berdosa belajar mengasihi seperti Kristus mengasihi - tanpa syarat, dengan pengorbanan, untuk kebaikan pihak lain.
Ketika Kebahagiaan Menjadi Berhala
Di kota besar seperti Jakarta, tekanan untuk tampil "sempurna" sangat kuat. Pernikahan seringkali dijadikan proyek untuk mencapai kebahagiaan pribadi maksimal. Suami dan istri menjadi alat untuk memenuhi kebutuhan emosional, finansial, atau sosial kita.
Namun ketika kebahagiaan menjadi tujuan utama pernikahan, kita tanpa sadar membuat pasangan menjadi berhala. Kita berkata pada mereka: "Tugasmu adalah membuatku bahagia." Ketika mereka gagal - dan mereka pasti akan gagal karena manusia terbatas - kita merasa kecewa, marah, bahkan putus asa.
Injil membebaskan kita dari tirani ini. Kebahagiaan kita tidak bergantung pada pasangan, tetapi pada Kristus yang telah mati dan bangkit bagi kita. Dengan fondasi ini, kita bebas mengasihi pasangan tanpa agenda tersembunyi.
Kekudusan: Tujuan yang Lebih Mulia
Apa artinya pernikahan untuk kekudusan? Artinya Allah menggunakan pernikahan sebagai alat untuk membuat kita semakin serupa dengan Kristus dalam karakter.
1. Belajar Mengasihi yang Sulit Dikasihi
Dalam kehidupan sehari-hari, kita melihat sisi terburuk pasangan kita. Mereka melihat kelemahan kita yang paling dalam. Inilah laboratorium kasih yang sesungguhnya - belajar mengasihi ketika perasaan tidak mendukung, ketika kita lelah, ketika kita kecewa.
2. Berlatih Pengampunan Radikal
Tidak ada hubungan yang lebih membutuhkan pengampunan daripada pernikahan. Kita belajar mengampuni kesalahan kecil (lupa mengangkat toilet seat) hingga yang besar (luka mendalam karena kata-kata yang menyakitkan). Setiap tindakan pengampunan adalah latihan untuk menjadi seperti Kristus.
3. Mengalahkan Egoisme
Pernikahan secara alami menantang sifat mementingkan diri. Keputusan sederhana seperti mau makan di mana, menonton film apa, menghabiskan uang untuk apa - semuanya memaksa kita keluar dari zona nyaman egoisme.
Paradoks Injil: Kehilangan Diri untuk Menemukan Sukacita
Inilah yang mengejutkan dari perspektif Injil tentang pernikahan: ketika kita berhenti mengejar kebahagiaan dan mulai mengejar kekudusan, kita malah menemukan sukacita yang lebih dalam dan berkelanjutan.
Ketika suami mengasihi istri "sebagaimana Kristus mengasihi gereja" - tanpa pamrih, dengan pengorbanan, untuk kebaikannya - istri merespons dengan rasa hormat dan kasih yang tulus. Ketika istri menghormati suami meskipun dia tidak sempurna, suami merasa diterima dan termotivasi untuk mengasihi lebih dalam lagi.
Siklus positif ini bukan hasil dari mengejar kebahagiaan, tetapi dari mengejar kekudusan.
Praktis untuk Pasangan di Jakarta
Bagaimana menerapkan prinsip ini di tengah kehidupan urban Jakarta yang penuh tekanan?
1. Ubah Pertanyaan Anda
Alih-alih bertanya "Apakah pernikahan ini membuatku bahagia?", tanyakan "Bagaimana Allah menggunakan pernikahan ini untuk mengubahku?"
2. Rayakan Pertumbuhan, Bukan Kesempurnaan
Apresiasi ketika pasangan menunjukkan karakter Kristus, meskipun dalam hal kecil. Pertumbuhan dalam kekudusan adalah proses seumur hidup.
3. Cari Dukungan Komunitas
Bergabunglah dengan pelayanan di gereja yang mendukung pertumbuhan pernikahan Kristen. Kita membutuhkan komunitas yang mengingatkan kita pada tujuan sejati pernikahan.
Harapan Bagi Pernikahan yang Sedang Bergumul
Jika pernikahan Anda sedang mengalami kesulitan, jangan putus asa. Ingatlah bahwa Kristus tidak menyerah pada gereja yang berdosa dan sulit diatur. Dia terus mengasihi, mengampuni, dan menguduskan.
Demikian juga dengan pernikahan Anda. Setiap tantangan adalah kesempatan untuk belajar mengasihi seperti Kristus. Setiap konflik adalah undangan untuk bertumbuh dalam anugerah.
Pernikahan yang berpusat pada kekudusan tidak menjamin hidup tanpa masalah, tetapi menjamin makna di tengah masalah.
Jika Anda ingin mendiskusikan topik ini lebih dalam atau membutuhkan pendampingan pernikahan, jangan ragu untuk bergabung dengan kegiatan komunitas keluarga di GKBJ Taman Kencana. Karena perjalanan menuju kekudusan tidak dimaksudkan untuk ditempuh sendiri.
GKBJ Taman Kencana
Artikel ini ditulis untuk menginspirasi dan memperlengkapi Anda dalam perjalanan iman.
Baca Artikel LainnyaArtikel Terkait

Singleness yang Bermakna: Menemukan Keutuhan Sejati di Jakarta Modern
Dalam hiruk-pikuk Jakarta yang sering menekankan status relationship, bagaimana orang Kristen single menemukan makna dan keutuhan? Injil mengajarkan kita bahwa identitas sejati tidak ditentukan oleh status pernikahan, tetapi oleh kasih Kristus yang sempurna.

Anak yang Memberontak: Harapan Injil bagi Orang Tua yang Patah Hati di Jakarta
Ketika anak kita memberontak, hati kita hancur. Namun kisah anak yang hilang menunjukkan bahwa Injil menawarkan harapan yang mengejutkan - bukan hanya untuk anak kita, tetapi juga untuk hati kita yang terluka.

Ketika Pernikahan Terasa Sulit: Bagaimana Anugerah Allah Menyembuhkan Hubungan yang Retak
Pernikahan yang sulit bukan berarti kegagalan, tetapi panggung di mana anugerah Allah bekerja paling nyata. Temukan bagaimana Injil mengubah konflik menjadi kedekatan dan keretakan menjadi pemulihan.