Penginjilan Pribadi: Membagikan Injil dengan Keberanian yang Sejati

Penginjilan pribadi adalah salah satu aspek paling penting dalam kehidupan gereja yang seringkali menjadi tantangan besar bagi banyak orang percaya. Ketakutan, keraguan, dan perasaan tidak layak kerap menghalangi kita untuk membagikan kabar baik kepada orang-orang di sekitar kita. Namun, Alkitab dengan jelas memanggil setiap orang percaya untuk menjadi saksi Kristus dengan keberanian yang sejati.
Dasar Alkitabiah Penginjilan Pribadi
Amanat Agung yang diberikan Yesus dalam Matius 28:19-20 bukan hanya ditujukan kepada para rasul, melainkan kepada seluruh murid-Nya di sepanjang masa: "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu."
Rasul Paulus juga menegaskan tanggung jawab ini dalam Roma 10:14-15: "Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia? Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya?"
Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa penginjilan bukanlah pilihan, melainkan panggilan yang harus direspons setiap orang percaya dengan serius.
Sumber Keberanian Sejati dalam Penginjilan
1. Keberanian Bersumber dari Injil itu Sendiri
Keberanian dalam penginjilan tidak berasal dari kepercayaan diri manusiawi, melainkan dari kuasa Injil itu sendiri. Paulus berkata dalam Roma 1:16: "Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya."
Injil memiliki kuasa intrinsik untuk mengubah hati manusia. Kita tidak perlu bergantung pada kemampuan retorika atau persuasi kita sendiri, karena Roh Kudus-lah yang bekerja melalui Firman Allah untuk membawa regenerasi.
2. Keberanian dari Kedaulatan Allah dalam Keselamatan
Doktrin predestinasi dan pemilihan yang diajarkan dalam teologi Reformed seharusnya memberikan keberanian, bukan ketakutan. Dalam Yohanes 10:16, Yesus berkata: "Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala."
Ketika kita memahami bahwa Allah memiliki umat pilihan-Nya di antara semua bangsa, kita dapat menginjil dengan keyakinan bahwa Firman Allah tidak akan kembali dengan sia-sia (Yesaya 55:11).
3. Keberanian dari Hadirat Kristus
Yesus berjanji dalam Matius 28:20: "Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." Kehadiran Kristus bersama kita memberikan keberanian untuk menghadapi penolakan, ejekan, atau bahkan penganiayaan dalam penginjilan.
Prinsip-Prinsip Praktis Penginjilan Pribadi
1. Mulai dengan Doa dan Ketergantungan kepada Roh Kudus
Sebelum berbicara kepada manusia tentang Allah, berbicaralah kepada Allah tentang manusia. Doa adalah fondasi penginjilan yang efektif. Dalam 1 Korintus 3:6-7, Paulus mengingatkan: "Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan."
2. Hidup dalam Kekudusan sebagai Kesaksian
Penginjilan verbal harus didukung oleh kehidupan yang kudus. Petrus menulis dalam 1 Petrus 3:15-16: "Kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni."
3. Gunakan Hukum Taurat untuk Membawa Kesadaran Dosa
Mengikuti metode yang digunakan Yesus dan para rasul, gunakan Hukum Taurat (Sepuluh Perintah Allah) untuk membawa kesadaran akan dosa. Roma 3:20 berkata: "Sebab tidak seorangpun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa."
4. Presentasikan Kristus sebagai Satu-satunya Jalan Keselamatan
Setelah menunjukkan kebutuhan akan keselamatan, presentasikan Yesus Kristus sebagai satu-satunya jawaban. Yohanes 14:6 dengan jelas menyatakan: "Kata Yesus kepadanya: 'Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.'"
Mengatasi Hambatan dalam Penginjilan Pribadi
1. Mengatasi Rasa Takut akan Penolakan
Penolakan terhadap Injil bukanlah penolakan terhadap diri kita secara pribadi, melainkan penolakan terhadap Kristus. Yesus berkata dalam Lukas 10:16: "Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku; dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku."
2. Mengatasi Perasaan Tidak Layak
Banyak orang percaya merasa tidak layak untuk menginjil karena masih bergumul dengan dosa. Namun, kita bukan menginjil berdasarkan kesempurnaan kita, melainkan berdasarkan kasih karunia Allah. Paulus berkata dalam 2 Korintus 4:7: "Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami."
3. Mengatasi Ketidakpercayaan Diri dalam Pengetahuan
Tidak perlu menjadi teolog ahli untuk menginjil. Yang terpenting adalah memiliki kesaksian pribadi tentang apa yang Kristus lakukan dalam hidup kita dan pemahaman dasar tentang Injil. 1 Petrus 3:15 mengajarkan kita untuk selalu siap memberi pertanggungan jawab tentang pengharapan kita.
Buah dan Dampak Penginjilan Pribadi yang Setia
1. Pertumbuhan Gereja yang Sehat
Gereja yang aktif dalam penginjilan pribadi akan mengalami pertumbuhan yang sehat, bukan hanya secara kuantitas tetapi juga kualitas. Jiwa-jiwa yang diselamatkan melalui penginjilan personal cenderung memiliki fondasi iman yang kuat.
2. Penguatan Iman Pribadi
Berbagi Injil akan memperkuat iman kita sendiri. Ketika kita mengingat dan mengomunikasikan kebenaran-kebenaran besar tentang keselamatan, iman kita akan semakin kokoh.
3. Kemuliaan bagi Allah
Yang terpenting, penginjilan pribadi yang setia membawa kemuliaan bagi Allah. Yohanes 15:8 berkata: "Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan menjadi murid-murid-Ku."
Kesimpulan: Panggilan untuk Bertindak
Penginjilan pribadi dengan keberanian sejati adalah buah alami dari hati yang telah diubahkan oleh kasih karunia Allah. Keberanian ini bukan berasal dari diri kita sendiri, melainkan dari pemahaman tentang kuasa Injil, kedaulatan Allah, dan kehadiran Kristus bersama kita.
Mari kita merespons panggilan Amanat Agung dengan hati yang dipenuhi kasih untuk jiwa-jiwa yang terhilang. Mulailah dari lingkaran terdekat—keluarga, teman, rekan kerja—dan percayalah bahwa Allah akan menggunakan kesaksian kita untuk kemuliaan nama-Nya.
Ingatlah bahwa dalam penginjilan, kita hanya dipanggil untuk setia, bukan untuk berhasil. Hasilnya adalah urusan Allah, tetapi kesetiaan adalah tanggung jawab kita. Sebagaimana Paulus berkata dalam 1 Korintus 4:2: "Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai."
GKBJ Taman Kencana
Artikel ini ditulis untuk menginspirasi dan memperlengkapi Anda dalam perjalanan iman.
Baca Artikel LainnyaArtikel Terkait

Gereja dan Budaya: Menavigasi Dunia dengan Anugerah, Bukan Amarah
Bagaimana gereja di Jakarta menghadapi budaya sekular tanpa menjadi terlalu akomodatif atau terlalu judgmental? Temukan wisdom Injil untuk hidup dengan integritas di tengah pluralitas budaya urban.

Pemimpin yang Melayani: Ketika Yesus Membasuh Kaki Murid-Nya di Jakarta Modern
Dalam dunia kepemimpinan Jakarta yang kompetitif, model Yesus yang membasuh kaki murid-muridNya menawarkan paradigma revolusioner tentang kekuasaan sejati. Pelajari bagaimana pelayanan mengubah cara kita memimpin di gereja, keluarga, dan tempat kerja.

Konflik di Gereja: Ketika Komunitas Rohani Menjadi Tempat Luka yang Mendalam
Konflik dalam gereja bisa menjadi luka yang paling dalam karena terjadi di tempat yang seharusnya menjadi surga kecil. Namun Injil memberikan jalan keluar yang mengubah konflik menjadi kesempatan pertumbuhan spiritual yang sejati.