Memberikan Persembahan: Menemukan Kebebasan Sejati dari Cengkeraman Uang di Jakarta

Jakarta adalah kota yang tak pernah tidur, tempat di mana uang mengalir seperti sungai yang deras namun seringkali keruh. Di tengah hiruk-pikuk ibu kota, di antara gedung-gedung pencakar langit dan kemacetan yang tak berkesudahan, kita semua terjerat dalam satu pergulatan yang sama: hubungan yang rumit dengan uang.
Sebagai warga Jakarta, kita tahu betul bagaimana uang bisa menjadi tuan yang kejam. Tagihan bulanan yang menumpuk, cicilan rumah yang mencekik, biaya hidup yang terus meningkat, dan tekanan untuk "keeping up appearances" di media sosial—semuanya membuat kita merasa seperti hamster yang terus berlari di roda yang berputar tanpa henti.
Paradoks Injil tentang Uang
Di tengah realitas ini, Alkitab memberikan kita sesuatu yang counter-intuitive, sesuatu yang tampak gila bagi logika Jakarta yang pragmatis: jalan menuju kebebasan finansial dimulai dengan memberikan.
"Berikanlah, maka akan diberikan kepadamu" (Lukas 6:38). Bagi telinga Jakarta yang terbiasa dengan "take it or leave it," ini terdengar seperti ekonomi terbalik. Namun inilah keindahan Injil—ia selalu membalik asumsi kita tentang kehidupan.
Yesus tidak memberitahu kita untuk memberikan karena Dia membutuhkan uang kita. Allah yang menciptakan emas dan perak tidak memerlukan kartu kredit kita. Sebaliknya, Dia mengundang kita memberikan karena Dia tahu bahwa uang memiliki kekuatan spiritual yang berbahaya—kekuatan untuk mengikat jiwa kita.
Uang sebagai Rival Allah
Di Jakarta, uang bukan sekadar alat tukar; ia telah menjadi ukuran nilai manusia. Kita menilai keberhasilan seseorang dari mobil yang dikendarainya, dari lokasi rumahnya, dari brand yang dikenakannya. Tanpa sadar, uang telah menjadi allah kecil yang menentukan identitas dan harga diri kita.
Yesus memperingatkan dalam Matius 6:24: "Tidak ada seorangpun yang dapat mengabdi kepada dua tuan." Dia tidak berkata sulit untuk melakukannya—Dia berkata mustahil. Mengapa? Karena uang dan Allah sama-sama menuntut kepercayaan total, kesetiaan mutlak, dan ketaatan penuh.
Ketika kita cemas tentang masa depan finansial, kita sebenarnya sedang berkata, "Saya tidak yakin Allah cukup baik atau cukup kuat untuk merawat saya." Ketika kita enggan memberikan, kita sedang berkata, "Saya percaya pada tabungan saya lebih dari pada Allah saya."
Kemurahan Hati yang Membebaskan
Namun inilah kabar baik yang mengubah segalanya: Yesus telah memberikan persembahan tertinggi untuk kita. Dia yang kaya raya menjadi miskin supaya kita yang miskin rohani menjadi kaya di dalam Dia (2 Korintus 8:9).
Pemahaman tentang kemurahan hati Allah inilah yang membebaskan kita untuk murah hati. Kita tidak memberikan untuk mendapat berkat Allah—kita memberikan karena kita sudah diberkati di dalam Kristus. Persembahan bukan transaksi dengan Tuhan; ia adalah respons sukacita terhadap anugerah yang sudah diterima.
Di worship service Jakarta mingguan kami, ketika waktu persembahan tiba, itu bukan momen untuk merasa bersalah atau terpaksa. Itu adalah momen kebebasan—kesempatan untuk mengatakan kepada uang: "Kamu bukan tuanku. Yesus adalah Tuhanku."
Persembahan sebagai Latihan Rohani
Memberikan persembahan adalah seperti pergi ke gym rohani. Setiap kali kita memberikan, kita melatih otot kepercayaan kita kepada Allah. Kita berlatih hidup dengan tangan terbuka, bukan dengan kepalan tangan yang menggenggam erat.
Bagi penduduk Jakarta yang terbiasa dengan mentalitas "tabung untuk hari tua," ini memerlukan iman yang radikal. Namun Yesus mengajarkan kita untuk berdoa, "Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya" (Matius 6:11). Bukan untuk tahun depan, bukan untuk pensiun—untuk hari ini.
Ini bukan menganjurkan ketidakbijaksanaan finansial, tetapi mengundang kita untuk hidup dengan kepercayaan yang mendalam bahwa Allah yang memberi makan burung-burung di langit akan jauh lebih memelihara anak-anak-Nya.
Komunitas yang Saling Berbagi
Di GKBJ Taman Kencana, persembahan bukan hanya tentang individu yang memberikan kepada institusi. Ia tentang komunitas yang saling memikul beban, yang saling berbagi sukacita dan penderitaan.
Ketika seorang jemaat kehilangan pekerjaan, persembahan kita menjadi tangan Allah yang menyediakan. Ketika ada keluarga yang sakit dan tidak mampu membayar rumah sakit, kemurahan hati kita menjadi jawaban doa mereka. Ketika ada anak muda yang cerdas tetapi tidak mampu melanjutkan kuliah, persembahan kita membuka pintu masa depan mereka.
Inilah yang terjadi ketika gereja berfungsi sebagaimana mestinya—bukan sekadar tempat ibadah mingguan, tetapi komunitas yang hidup dimana kasih Kristus dinyatakan dalam tindakan nyata.
Hidup dengan Tangan Terbuka
Jakarta mengajarkan kita untuk hidup dengan tangan terkepal—menggenggam erat apa yang kita miliki karena takut kehilangan. Tetapi Injil mengundang kita untuk hidup dengan tangan terbuka—siap memberi dan siap menerima.
Ketika kita hidup dengan tangan terbuka, sesuatu yang ajaib terjadi. Kita menemukan bahwa Allah selalu menyediakan apa yang kita butuhkan, seringkali melalui cara-cara yang tidak pernah kita duga. Kita merasakan sukacita yang lebih dalam daripada yang bisa dibeli dengan uang. Kita mengalami kedamaian yang melampaui akal budi di tengah ketidakpastian ekonomi.
Yang terpenting, kita menemukan identitas kita bukan dalam berapa banyak yang kita miliki, tetapi dalam siapa yang memiliki kita—Allah yang mengasihi kita dengan kasih yang tidak bersyarat.
Undangan untuk Kebebasan
Jika Anda merasa terjerat dalam cengkeraman uang, jika kecemasan finansial menguasai pikiran Anda, jika Anda merasa bahwa harga diri Anda ditentukan oleh rekening bank Anda, maka persembahan adalah undangan Allah menuju kebebasan.
Mulailah dengan yang kecil. Berikan dengan sukacita, bukan dengan terpaksa. Percayalah bahwa Allah yang telah memberikan Anak-Nya tidak akan menahan kebaikan-Nya dari Anda.
Dan temukanlah komunitas yang mendukung perjalanan iman Anda. Di tengah Jakarta yang individualistis, kita membutuhkan keluarga rohani yang mengingatkan kita akan kebenaran Injil ketika dunia berteriak sebaliknya.
Persembahan bukan tentang berapa banyak yang kita berikan—ia tentang hati yang terbuka kepada Allah yang sudah memberikan segalanya untuk kita. Dalam kemurahan hati-Nya, kita menemukan kebebasan sejati yang tidak bisa dibeli dengan uang apapun di dunia ini.
GKBJ Taman Kencana
Artikel ini ditulis untuk menginspirasi dan memperlengkapi Anda dalam perjalanan iman.
Baca Artikel LainnyaArtikel Terkait

Mengapa Kita Masih Membutuhkan Gereja di Era Digital: Lebih dari Sekedar Tempat Ibadah Jakarta
Di era streaming dan aplikasi rohani, mengapa kita masih perlu hadir fisik di gereja? Temukan mengapa komunitas iman yang nyata tidak bisa digantikan teknologi, dan bagaimana gereja membentuk kita dengan cara yang tidak pernah kita sadari.

Gereja Bukan Gedung: Komunitas yang Mengubah Kota Jakarta
Di tengah hiruk pikuk Jakarta, gereja sejati bukan soal bangunan megah atau program hebat. Gereja adalah komunitas orang-orang yang sudah diubah oleh kasih Kristus dan sekarang menjadi agen perubahan di kota.

Mengapa Kita Masih Butuh Gereja di Era Digital: Lebih dari Sekadar Ibadah Online Jakarta
Di zaman teknologi ini, beribadah online terasa mudah dan praktis. Namun ada sesuatu yang tidak tergantikan dari berkumpul bersama komunitas gereja. Temukan mengapa gereja lokal tetap relevan untuk kehidupan iman kita.