Suatu malam, anak Anda tiba-tiba bertanya, “Kenapa aku harus percaya?” Banyak orang tua langsung merasa jantungnya berdegup. Apakah imannya mulai goyah? Apakah ada yang salah dengan cara kita mendidiknya?
Perasaan itu wajar. Namun pertanyaan dari seorang remaja tidak selalu berarti ia menjauh dari Tuhan. Sering kali ia sedang mulai memikirkan imannya sendiri, bukan hanya mengikuti apa yang selama ini ia dengar di rumah dan di gereja.
Apa kata Yakobus 1:19
Dalam suratnya, Yakobus menasihati orang percaya agar cepat mendengar, lambat berkata-kata, dan lambat marah. Nasihat ini cocok sekali untuk percakapan antara orang tua dan remaja, karena urutannya sering terbalik. Kita cepat menjawab, cepat menasihati, dan cepat tersinggung.
Mendengar lebih dulu bukan berarti kita setuju dengan semua yang dikatakan anak. Artinya, kita memberi ruang supaya ia merasa aman untuk jujur. Anak yang tahu pertanyaannya akan didengar biasanya lebih mau terus bercerita. Anak yang takut dimarahi cenderung menyimpan pertanyaannya sendiri atau mencari jawaban di tempat lain.
Tiga langkah sederhana
Dengarkan sampai selesai. Tahan keinginan untuk memotong. Kadang pertanyaan pertama hanyalah pintu masuk. Pertanyaan yang sebenarnya muncul belakangan, misalnya karena ada teman yang mengejek imannya atau ada peristiwa sedih yang sedang ia pikirkan.
Pelankan jawaban Anda. Tarik napas dulu sebelum bicara. Anda boleh mengulang kembali apa yang Anda dengar, “Jadi kamu bingung karena…, begitu?” Kalimat seperti ini membantu anak merasa dipahami, sekaligus memastikan Anda tidak salah menangkap maksudnya.
Kendalikan reaksi. Jika Anda merasa kaget atau marah, tidak apa-apa mengatakan, “Mama perlu waktu sebentar untuk memikirkan ini. Besok kita bicara lagi, ya?” Itu jauh lebih baik daripada kata-kata yang akan disesali kemudian.
Contoh percakapan
Berikut ini hanya contoh untuk gambaran, bukan kisah keluarga jemaat kami.
Anak: “Kalau Tuhan baik, kenapa masih ada orang yang menderita?”
Respons yang cenderung menutup percakapan: “Kamu ini kok tanya begitu? Imanmu kurang, ya?”
Respons yang membuka percakapan: “Itu pertanyaan yang berat, dan banyak orang pernah memikirkannya. Ada hal tertentu yang membuat kamu memikirkan ini akhir-akhir ini?”
Perhatikan bahwa respons kedua belum memberi jawaban apa pun. Ia hanya memberi tahu anak bahwa pertanyaannya boleh diajukan. Jawaban bisa menyusul, dan sering kali lebih baik dicari bersama.
Bagaimana kalau Anda tidak tahu jawabannya
Ini hal yang sangat biasa. Anda tidak harus menjadi ahli teologi untuk menemani anak. Mengatakan, “Mama belum tahu jawabannya. Mari kita baca Alkitab dan cari tahu bersama,” bisa menjadi teladan yang berharga. Anak belajar bahwa bertanya bukan tanda iman yang lemah, dan bahwa orang dewasa pun terus belajar.
Sebagai gereja, kami berpegang bahwa Alkitab adalah otoritas tertinggi untuk iman dan kehidupan. Karena itu, kami mendorong keluarga untuk membawa pertanyaan kembali kepada firman Tuhan. Lakukanlah dengan sabar, tanpa memaksa anak menerima jawaban dalam satu malam. Iman bertumbuh sebagai sebuah perjalanan, dan pertanyaan sering kali menjadi bagian dari perjalanan itu.
Tidak perlu berjalan sendirian
Mendampingi remaja memang tidak mudah, dan tidak ada orang tua yang selalu berhasil. Jika Anda ingin mengenal pelayanan remaja kami, silakan lihat halaman Pemuda & Remaja. Informasi jadwal ibadah selalu kami perbarui di halaman Ibadah Minggu, sehingga Anda bisa mengikuti yang terbaru dari sana.
Jika Anda baru pertama kali mempertimbangkan untuk datang bersama keluarga, halaman Baru di Sini menjelaskan apa yang bisa Anda harapkan. Kalau ada pertanyaan lain tentang anak remaja Anda atau tentang gereja, tim kami senang berbincang lewat halaman Kontak.
Pada akhirnya, kita tidak perlu punya semua jawaban. Yang paling dibutuhkan anak adalah orang tua yang mau mendengar dengan sabar, dan yang tetap menunjukkan kasih, juga ketika pertanyaannya sulit.
Bacaan Alkitab: Yakobus 1:19.