Gereja dan Budaya: Menavigasi Dunia dengan Anugerah, Bukan Amarah

Di tengah hiruk-pikuk Jakarta yang multikultural, gereja sering menghadapi dilema yang rumit. Di satu sisi, kita tidak ingin kehilangan identitas Kristen dengan menjadi terlalu akomodatif terhadap budaya sekular. Di sisi lain, kita tidak ingin menjadi komunitas yang menghakimi dan terpisah dari dunia yang Tuhan kasihi.
Bagaimana seharusnya church in Jakarta seperti GKBJ Taman Kencana merespons ketegangan ini? Jawabannya tidak sesederhana yang kita kira—dan justru di situlah keindahan Injil bersinar paling terang.
Dilema Gereja Urban di Jakarta
Hidup sebagai orang Kristen di Jakarta tidak pernah mudah. Kita berinteraksi dengan tetangga Muslim, rekan kerja yang tidak beragama, dan teman-teman yang memiliki pandangan nilai yang berbeda. Setiap hari, kita harus memutuskan: kapan harus berkompromi, kapan harus berdiri teguh?
Tekanan ini terasa lebih intens lagi di era digital. Media sosial memaksa kita untuk mengambil posisi tentang isu-isu kontroversial. Teman-teman non-Kristen mempertanyakan kepercayaan kita. Sementara sesama Kristen terkadang menuduh kita terlalu liberal atau terlalu konservatif.
Yang mengejutkan, Yesus menghadapi dilema yang sama—namun dengan cara yang revolutioner.
Yesus: Model Yang Counter-Intuitive
Dalam Injil, kita melihat Yesus berinteraksi dengan budaya Yahudi dan Romawi dengan cara yang mengejutkan. Dia tidak menyerah pada tekanan untuk menyesuaikan pesan-Nya, tetapi Dia juga tidak menghakimi orang-orang yang berbeda dari-Nya.
Perhatikan bagaimana Yesus merespons perempuan Samaria di sumur (Yohanes 4). Secara budaya, Dia seharusnya menghindari perempuan itu—dia adalah Samaria (musuh bangsa Yahudi), seorang perempuan (dalam budaya patriarki), dan memiliki reputasi moral yang buruk. Namun Yesus justru memulai percakapan, menunjukkan rasa hormat, dan menawarkan air hidup.
Yesus tidak berkompromi dengan kebenaran—Dia tetap menyebut dosa sebagai dosa. Tetapi Dia juga tidak menghakimi—Dia menawarkan anugerah dan transformasi.
Dua Ekstrem Yang Harus Dihindari
1. Assimilasi Tanpa Diskriminasi
Ekstrem pertama adalah menyerap budaya sekular tanpa filter. Dalam usaha untuk "relevan," beberapa gereja mulai mewajarkan segala sesuatu yang populer dalam budaya, bahkan ketika itu bertentangan dengan nilai-nilai Alkitab.
Di Jakarta, ini mungkin terlihat seperti: menghindari membicarakan dosa karena "tidak nyaman," mengadopsi materialisme sebagai tanda berkat Tuhan, atau menyesuaikan ajaran Alkitab agar sesuai dengan trend moral yang sedang populer.
Masalahnya, ketika gereja kehilangan keunikannya, kita tidak memiliki apa-apa untuk ditawarkan kepada dunia. Mengapa orang perlu Yesus jika gereja tidak berbeda dari budaya sekular?
2. Separatisme Yang Menghakimi
Ekstrem kedua adalah menarik diri sepenuhnya dari budaya dan menghakimi siapa pun yang berbeda. Ini menghasilkan mentalitas "benteng" di mana gereja menjadi klub eksklusif yang terpisah dari dunia.
Di konteks Jakarta, ini mungkin tampak seperti: hanya bergaul dengan sesama Kristen, menghakimi tetangga Muslim atau teman non-religius, atau menciptakan sub-kultur Kristen yang sama sekali terpisah dari masyarakat luas.
Masalahnya, Yesus memanggil kita untuk menjadi garam dan terang (Matius 5:13-16). Garam tidak berguna jika tetap di dalam wadahnya. Terang tidak berfungsi jika disembunyikan di bawah gantang.
Jalan Ketiga: Engaged Yet Distinctive
Injil menawarkan jalan ketiga yang mengejutkan: terlibat penuh dengan budaya, namun tetap mempertahankan keunikan Kristen. Ini bukan keseimbangan yang mudah—ini adalah ketegangan kreatif yang hanya dimungkinkan melalui anugerah.
Terlibat dengan Kasih
Sebagai small group community church di Jakarta Barat, kita dipanggil untuk terlibat aktif dengan masyarakat sekitar. Ini berarti:
- Membangun persahabatan genuine dengan tetangga non-Kristen
- Terlibat dalam isu-isu sosial yang penting bagi kota kita
- Mendengarkan dengan empati ketika orang berbagi pandangan yang berbeda
- Berkontribusi positif bagi kemajuan Jakarta tanpa agenda tersembunyi
Yesus makan bersama pemungut cukai dan orang berdosa (Lukas 5:30). Dia tidak melakukan itu untuk mengubah mereka secara paksa, tetapi untuk menunjukkan kasih yang transformatif.
Berbeda karena Anugerah
Namun keterlibatan kita berbeda dari aktivisme sekular karena motivasi kita berbeda. Kita tidak terlibat karena merasa lebih baik dari orang lain, tetapi karena kita telah mengalami anugerah yang tidak layak kita terima.
Ini menghasilkan sikap yang unik:
- Kerendahan hati, karena kita tahu kita adalah orang berdosa yang diselamatkan oleh kasih karunia
- Keberanian, karena identitas kita tidak bergantung pada persetujuan budaya
- Kasih, karena kita mengasihi karena Allah lebih dulu mengasihi kita
- Pengharapan, karena kita percaya Allah dapat mengubah hati manusia
Praktik Harian: Hidup di Tengah Ketegangan
Bagaimana ini terlihat dalam kehidupan sehari-hari di Jakarta?
Di Kantor: Anda dapat ikut coffee break dengan rekan yang berbeda keyakinan, mendengarkan keluhan mereka, bahkan berdoa untuk mereka—tanpa merasa harus mengkhotbahi atau menghakimi lifestyle mereka. Namun Anda juga tidak berpartisipasi dalam gossip atau praktik korup, bukan karena Anda merasa lebih baik, tetapi karena Anda sudah menemukan identitas yang lebih dalam di dalam Kristus.
Di Lingkungan: Anda dapat bertetangga baik dengan keluarga Muslim atau non-religius, membantu ketika mereka membutuhkan, bahkan merayakan momen bahagia bersama mereka. Namun ketika mereka bertanya tentang iman Anda, Anda dapat berbagi dengan genuine tanpa defensif atau agresif.
Dalam Isu Sosial: Anda dapat peduli pada ketidakadilan, kemiskinan, atau kerusakan lingkungan bersama teman-teman non-Kristen. Namun motivasi Anda berbeda—bukan untuk merasa righteous, tetapi karena Anda percaya Allah mengasihi seluruh ciptaan-Nya.
Komunitas yang Mentransformasi
Inilah mengapa renungan harian Kristen dan persekutuan dalam komunitas gereja menjadi sangat penting. Kita membutuhkan komunitas yang secara konsisten mengingatkan kita tentang Injil—bahwa kita adalah orang berdosa yang dikasihi, bukan orang baik yang perlu mempertahankan reputasi.
Di GKBJ Taman Kencana, kita berusaha menciptakan ruang di mana anggota dapat bergumul dengan pertanyaan-pertanyaan sulit ini bersama-sama. Bagaimana merespons kolega yang mengkritik iman Kristen? Bagaimana terlibat dalam politik tanpa kehilangan gospel witness? Bagaimana mengasihi tanpa berkompromi?
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak memiliki jawaban yang sederhana, dan justru di situlah kita membutuhkan wisdom komunitas dan pimpinan Roh Kudus.
Mengubah Jakarta Satu Hati pada Satu Waktu
Jakarta tidak akan berubah melalui program besar-besaran atau kampanye politik. Jakarta akan berubah ketika orang-orang Kristen biasa hidup dengan cara yang mengejutkan di tengah budaya sekular—dengan kasih yang tidak menghakimi namun tidak berkompromi, dengan keberanian yang rendah hati, dengan pengharapan yang realistic.
Ketika tetangga Muslim melihat Anda mengasihi keluarga Anda dengan cara yang berbeda. Ketika rekan kerja non-religius melihat Anda bekerja dengan integritas tanpa arogansi. Ketika teman-teman melihat Anda peduli pada orang miskin bukan untuk terlihat baik, tetapi karena motivasi yang lebih dalam.
Inilah yang Yesus maksud ketika Dia berkata, "Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga" (Matius 5:16).
Gereja yang tidak menyerah dan tidak menghakimi adalah gereja yang memahami bahwa transformasi budaya dimulai dari transformasi hati—dimulai dari hati kita sendiri yang telah diubah oleh anugerah Kristus.
Jika Anda bergumul dengan ketegangan ini, Anda tidak sendiri. Mari bergabung dengan komunitas yang saling menguatkan dalam perjalanan mengikut Yesus di tengah kompleksitas Jakarta modern. Hubungi kami untuk mengetahui lebih lanjut tentang bagaimana Anda dapat terlibat dalam misi transformatif ini.
GKBJ Taman Kencana
Artikel ini ditulis untuk menginspirasi dan memperlengkapi Anda dalam perjalanan iman.
Baca Artikel LainnyaArtikel Terkait

Pemimpin yang Melayani: Ketika Yesus Membasuh Kaki Murid-Nya di Jakarta Modern
Dalam dunia kepemimpinan Jakarta yang kompetitif, model Yesus yang membasuh kaki murid-muridNya menawarkan paradigma revolusioner tentang kekuasaan sejati. Pelajari bagaimana pelayanan mengubah cara kita memimpin di gereja, keluarga, dan tempat kerja.

Konflik di Gereja: Ketika Komunitas Rohani Menjadi Tempat Luka yang Mendalam
Konflik dalam gereja bisa menjadi luka yang paling dalam karena terjadi di tempat yang seharusnya menjadi surga kecil. Namun Injil memberikan jalan keluar yang mengubah konflik menjadi kesempatan pertumbuhan spiritual yang sejati.

Penginjilan Pribadi: Membagikan Injil dengan Keberanian yang Sejati
Penginjilan pribadi adalah panggilan setiap orang percaya untuk membagikan kabar baik kepada dunia yang terhilang. Artikel ini membahas bagaimana kita dapat menginjil dengan keberanian yang bersumber dari Kristus dan kasih karunia Allah.