Langsung ke konten utama
Kembali ke Artikel
Studi Alkitab29 Desember 2025

Tomas yang Ragu: Ketika Iman Bertemu dengan Pertanyaan Jujur di Era Modern

Tomas yang Ragu: Ketika Iman Bertemu dengan Pertanyaan Jujur di Era Modern

Ketika Keraguan Bertemu Iman

Dalam hiruk-pikuk Jakarta yang tak pernah tidur, kita sering dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan sulit tentang iman. Di tengah kemacetan Tol Dalam Kota, sambil menunggu meeting yang entah kapan berakhir, atau saat melihat berita yang membuat kita bertanya, "Di mana Tuhan dalam semua ini?"—kita mungkin merasa seperti Tomas.

Yohanes 20:24-29 mengisahkan tentang seorang murid yang telah mengikuti Yesus selama tiga tahun, namun ketika mendengar kesaksian tentang kebangkitan, dia berkata dengan tegas: "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan mencucukkan jariku ke bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya."

Keraguan Bukan Musuh Iman

Di budaya gereja yang seringkali menekankan kepastian, cerita Tomas mengajarkan kita sesuatu yang revolusioner: keraguan bukanlah lawan dari iman, melainkan bagian dari perjalanan menuju iman yang matang.

Perhatikan bahwa Yesus tidak memarahi Tomas. Dia tidak berkata, "Kurang rohani kamu!" atau "Imanmu lemah!" Sebaliknya, Yesus datang dan memberikan apa yang diminta Tomas—bukti yang bisa disentuh, dirasakan, dialami secara nyata.

Ini sangat relevan bagi kita yang hidup di Jakarta abad ke-21. Kita adalah generasi yang dibesarkan dengan pemikiran kritis, dengan akses informasi tak terbatas, dengan pertanyaan-pertanyaan yang kompleks tentang sains, filosofi, dan kehidupan. Ketika kita meragukan aspek-aspek tertentu dari iman kita, itu bukan berarti kita "tidak rohani"—itu berarti kita jujur.

Pertanyaan yang Lahir dari Penderitaan

Bayangkan posisi Tomas. Dia telah melihat gurunya—sosok yang dia yakini sebagai Mesias—disalibkan dengan cara yang paling memalukan. Harapannya hancur. Mimpinya tentang kerajaan Tuhan yang akan datang, musnah dalam tiga hari yang kelam.

Lalu tiba-tiba teman-temannya berkata bahwa Yesus hidup lagi? Ini bukan sekadar masalah skeptisisme intelektual. Ini tentang hati yang terluka yang takut untuk berharap lagi.

Dalam konteks Jakarta modern, kita mungkin mengalami "kematian" harapan dalam bentuk yang berbeda:

  • PHK yang tidak terduga
  • Diagnosa medis yang menakutkan
  • Kegagalan bisnis
  • Hubungan yang hancur
  • Korupsi yang merajalela yang membuat kita bertanya tentang keadilan Tuhan

Seperti Tomas, kita mungkin berkata, "Tuhan, kalau Engkau benar-benar ada dan peduli, tunjukkan kepada saya secara nyata."

Yesus Merespons Keraguan dengan Kelembutan

Yang mengharukan dari kisah ini adalah bagaimana Yesus merespons. Dia tidak datang dengan kemarahan, melainkan dengan undangan: "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya, tetapi percayalah!"

Yesus memahami bahwa Tomas membutuhkan sesuatu yang konkret. Dalam budaya yang sangat menghargai pengalaman empiris, Yesus memberikan pengalaman yang bisa disentuh, dirasakan secara fisik.

Ini menunjukkan sesuatu yang indah tentang karakter Allah: Dia tidak tersinggung oleh pertanyaan kita yang jujur. Bahkan ketika kita datang dengan keraguan, skeptisisme, bahkan kekecewaan, Dia datang dengan kelembutan.

Dari Keraguan Menuju Pengakuan yang Mendalam

Respons Tomas setelah bertemu dengan Yesus yang bangkit adalah salah satu pengakuan iman paling dalam dalam seluruh Perjanjian Baru: "Ya Tuhanku dan Allahku!" (Yohanes 20:28).

Ironinya, murid yang paling meragukan menjadi murid yang memberikan pengakuan paling eksplisit tentang keilahian Yesus. Ini menunjukkan bahwa iman yang telah melalui pergumulan keraguan seringkali menjadi iman yang paling dalam dan autentik.

Di khotbah kami di GKBJ Taman Kencana, kami sering melihat bagaimana jemaat yang pernah bergumul dengan keraguan justru memiliki iman yang paling kuat dan dapat diandalkan ketika badai kehidupan datang.

Berkat bagi Mereka yang Tidak Melihat

Yesus kemudian berkata, "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya" (Yohanes 20:29).

Ini bukan meremehkan pengalaman Tomas. Sebaliknya, ini adalah pengakuan bahwa sebagian besar dari kita akan percaya tanpa melihat secara fisik. Tetapi berkat ini diberikan kepada mereka yang, seperti Tomas, telah bergumul dengan jujur dan kemudian memilih untuk percaya.

Komunitas yang Menerima Keraguan

Satu hal yang sering kita lewatkan: murid-murid lain tidak mengusir Tomas ketika dia mengekspresikan keraguannya. Mereka tetap bersama dengannya. Dan ketika Yesus datang, Tomas ada di sana—di tengah komunitas.

Ini mengingatkan kita betapa pentingnya persekutuan Kristen Jakarta yang sehat—komunitas yang tidak hanya menerima orang-orang dengan iman yang "sempurna," tetapi juga mereka yang sedang bergumul dengan pertanyaan-pertanyaan sulit.

Hidup dengan Pertanyaan dalam Iman

Di Jakarta yang dinamis ini, kita akan terus dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan baru. Teknologi yang berkembang pesat, perubahan sosial yang cepat, tantangan ekonomi yang kompleks—semuanya dapat menimbulkan pertanyaan tentang relevansi dan kebenaran iman kita.

Kisah Tomas mengajarkan kita bahwa kita tidak perlu takut dengan pertanyaan-pertanyaan ini. Kita bisa datang kepada Yesus dengan keraguan kita, skeptisisme kita, bahkan kekecewaan kita. Dia cukup besar untuk menangani semuanya.

Undangan untuk Menyentuh dan Melihat

Bagi kita yang sedang bergumul dengan keraguan hari ini, undangan Yesus kepada Tomas adalah undangan untuk kita juga: "Datang dan lihat." Mungkin bukan dengan cara yang sama secara fisik, tetapi melalui:

  • Komunitas yang autentik di mana kita bisa jujur tentang pergumulan kita
  • Pelayanan kepada sesama di mana kita merasakan hadirat Tuhan yang nyata
  • Waktu teduh yang konsisten di mana kita memberikan ruang bagi Tuhan untuk berbicara
  • Belajar dan bertanya dengan jujur tentang iman kita

Di GKBJ Taman Kencana, kami mengundang Anda untuk bergabung dalam perjalanan ini—perjalanan iman yang jujur dengan pertanyaan, yang terbuka dengan keraguan, namun tetap berkomitmen untuk mencari kebenaran. Karena pada akhirnya, Yesus yang bangkit cukup besar untuk menangani semua pertanyaan kita.

Seperti Tomas, mungkin melalui keraguan yang jujur, kita akan sampai pada pengakuan yang lebih dalam: "Ya Tuhanku dan Allahku!"

Bagikan Artikel

GKBJ Taman Kencana

Artikel ini ditulis untuk menginspirasi dan memperlengkapi Anda dalam perjalanan iman.

Baca Artikel Lainnya
Jadwal Ibadah
Petunjuk Arah
Telepon
WhatsApp

Jadwal Ibadah

Minggu

Ibadah Umum: 07:00 & 09:30

Ibadah Pemuda: 17:00

Sekolah Minggu: 09:30

Rabu

Doa Berkat: 18:00