Langsung ke konten utama
Kembali ke Artikel
Apologetika27 Desember 2025

Sains dan Iman: Mengapa Keduanya Tidak Harus Bertentangan di Era Modern Jakarta

Sains dan Iman: Mengapa Keduanya Tidak Harus Bertentangan di Era Modern Jakarta

Pertanyaan yang Mengganggu di Kota Metropolitan

Di gedung-gedung pencakar langit Jakarta Barat, para profesional muda menghadapi dilema yang tidak mudah. Seorang dokter di rumah sakit terkemuka bertanya: "Bagaimana saya bisa percaya pada mukjizat penyembuhan ketika setiap hari saya mengandalkan pengetahuan medis?" Seorang insinyur IT di kawasan Cengkareng bergumul: "Apakah iman saya hanya wishful thinking dalam dunia yang diatur oleh algoritma dan data?"

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak asing bagi banyak orang Kristen urban di Jakarta. Di tengah kemajuan teknologi yang pesat dan rasionalitas yang tinggi, tampaknya ada jurang yang menganga antara sains dan iman. Namun benarkah demikian?

Mitos tentang "Perang" Sains dan Iman

Selama berabad-abad, kita diberi tahu bahwa sains dan iman berada dalam konflik yang tidak dapat didamaikan. Narasi ini mengasumsikan bahwa semakin kita mengetahui tentang alam semesta melalui sains, semakin kecil ruang untuk Tuhan. Ini adalah pandangan yang disebut "God of the gaps" - Tuhan hanya ada di celah-celah ketidaktahuan kita.

Namun pemikiran ini justru merendahkan baik sains maupun iman. Sains yang sejati tidak pernah dimaksudkan untuk menghilangkan Tuhan, melainkan untuk memahami ciptaan-Nya dengan lebih baik. Dan iman Kristen yang matang tidak takut terhadap penemuan ilmiah, karena percaya bahwa semua kebenaran adalah kebenaran Tuhan.

Perspektif yang Berbeda, Bukan yang Bertentangan

Bayangkan Anda mengamati gedung Jakarta International Stadium. Seorang arsitek akan menjelaskannya dari segi desain dan struktur. Seorang sejarawan akan membahas latar belakang pembangunannya. Seorang ekonom akan menganalisis dampak finansialnya. Apakah mereka saling bertentangan? Tidak. Mereka memberikan perspektif yang berbeda tentang realitas yang sama.

Demikian pula dengan sains dan iman. Sains menjawab "bagaimana" - bagaimana alam semesta bekerja, bagaimana kehidupan berevolusi, bagaimana penyakit dapat disembuhkan. Iman menjawab "mengapa" - mengapa ada sesuatu daripada tidak ada apa-apa, mengapa alam semesta tampak didesain dengan begitu halus, mengapa kita memiliki nilai moral dan makna.

Ketika Sains Menunjuk pada Yang Ilahi

Ironisnya, semakin kita memahami alam semesta melalui sains, semakin kita menemukan indikasi-indikasi yang menunjuk pada kemungkinan adanya Pencipta. Fisikawan menemukan bahwa konstanta-konstanta alam semesta disetel dengan begitu presisi sehingga perubahan kecil saja akan membuat kehidupan mustahil. Biologis mengagumi kompleksitas sel yang bahkan dengan teknologi tercanggih sulit untuk dipahami sepenuhnya.

Francis Collins, direktur National Institutes of Health AS yang juga seorang Kristen, pernah berkata: "Sains adalah cara untuk menyembah yang mengagumkan melalui investigasi terhadap ciptaan Tuhan."

Menghadapi Tekanan di Gereja Jakarta Barat

Bagi jemaat gereja Jakarta Barat, tantangan ini sangat nyata. Dalam komunitas yang semakin terdidik dan urban, banyak yang merasa tertekan untuk memilih antara intelektualitas dan spiritualitas. Namun Injil menawarkan jalan ketiga yang mengejutkan.

Yesus Kristus sendiri adalah misteri yang melampaui kategori-kategori sederhana kita. Dia adalah Firman yang menjadi manusia - kebenaran ilahi yang mengambil bentuk sejarah yang dapat diselidiki. Dalam diri-Nya, yang transenden dan yang imanen bertemu tanpa kehilangan integritas masing-masing.

Pemuridan dalam Era Saintifik

Pemuridan Kristen di abad ke-21 tidak berarti mengabaikan akal budi atau penemuan ilmiah. Sebaliknya, itu berarti mengintegrasikan seluruh hidup kita - termasuk kehidupan intelektual - di bawah ketuhanan Kristus.

Ini berarti:

  • Menghormati sains sebagai cara untuk memahami ciptaan Tuhan
  • Mengakui keterbatasan sains dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tertinggi tentang makna dan tujuan
  • Memelihara kerendahan hati intelektual, menyadari bahwa baik pengetahuan ilmiah maupun pemahaman teologis kita terbatas

Kebenaran yang Membebaskan

Bagi mereka yang bergumul dengan ketegangan ini, Injil menawarkan kebebasan yang mengejutkan. Kita tidak perlu memilih antara menjadi orang yang rasional atau orang yang beriman. Dalam Kristus, kita dipanggil untuk mengasihi Tuhan dengan seluruh hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan kita (Markus 12:30).

Ini berarti bahwa seorang ilmuwan dapat menyelidiki dunia dengan ketelitian tinggi sambil tetap memuji Pencipta yang membuat investigasi itu mungkin. Seorang dokter dapat menggunakan pengetahuan medis terbaik sambil tetap berdoa untuk penyembuhan pasiennya. Seorang insinyur dapat merancang teknologi yang mengagumkan sambil tetap percaya pada Tuhan yang menciptakan hukum-hukum fisika yang memungkinkan teknologi itu bekerja.

Undangan untuk Komunitas

Di GKBJ Taman Kencana, kami percaya bahwa pertanyaan-pertanyaan sulit ini tidak harus dihadapi sendirian. Dalam komunitas iman yang sehat, kita dapat bergumul bersama dengan pertanyaan-pertanyaan besar tentang sains, iman, dan makna hidup tanpa takut dihakimi.

Jika Anda adalah seorang profesional di Jakarta yang bergumul dengan hubungan antara sains dan iman, Anda diundang untuk bergabung dalam perjalanan penemuan ini. Karena pada akhirnya, kebenaran - apakah ditemukan melalui mikroskop atau melalui Kitab Suci - adalah hadiah dari Tuhan yang sama yang menciptakan baik dunia fisik maupun kerinduan spiritual dalam hati manusia.

Bagikan Artikel

GKBJ Taman Kencana

Artikel ini ditulis untuk menginspirasi dan memperlengkapi Anda dalam perjalanan iman.

Baca Artikel Lainnya
Jadwal Ibadah
Petunjuk Arah
Telepon
WhatsApp

Jadwal Ibadah

Minggu

Ibadah Umum: 07:00 & 09:30

Ibadah Pemuda: 17:00

Sekolah Minggu: 09:30

Rabu

Doa Berkat: 18:00