Langsung ke konten utama
Kembali ke Artikel
Renungan26 Januari 2026

Menemukan Allah di Tengah Kegelapan: Ketika Doa Terasa Tidak Dijawab

Menemukan Allah di Tengah Kegelapan: Ketika Doa Terasa Tidak Dijawab

Pernahkah Anda merasa seperti berdoa kepada tembok? Di tengah hiruk pikuk Jakarta dengan kemacetan yang tak berujung, deadline kerja yang menumpuk, dan tekanan hidup yang semakin berat, kita sering berlutut dengan harapan besar—namun yang kita rasakan hanya keheningan yang menggantung.

"Tuhan, kapan pandemi ini berakhir?" "Tuhan, kapan saya mendapat pekerjaan?" "Tuhan, sembuhkanlah orang tua saya." Doa-doa yang kita panjatkan dengan sungguh-sungguh, namun jawaban yang kita harapkan tidak kunjung datang.

Keheningan yang Menyakitkan

Di era digital ini, kita terbiasa dengan respons yang cepat. WhatsApp yang dibaca dalam hitungan detik, email yang dijawab dalam hitungan jam. Ketika Allah tampaknya tidak merespons dengan cara dan waktu yang kita inginkan, kita mulai bertanya-tanya: "Apakah Dia benar-benar peduli?"

Psalmis dalam Mazmur 13:1-2 mengungkapkan pergumulan yang sama: "Berapa lama lagi, ya TUHAN? Akankah Engkau melupakan aku untuk selamanya? Berapa lama lagi Engkau menyembunyikan wajah-Mu terhadap aku? Berapa lama lagi aku harus menaruh kekuatiran dalam jiwaku, dan berdukacita dalam hatiku setiap hari?"

Bahkan orang-orang kudus dalam Alkitab merasakan hal yang sama. Ini bukan tanda kurangnya iman—ini adalah bagian dari pengalaman manusia yang mendalam.

Paradoks Kehadiran dalam Ketidakhadiran

Inilah yang mengejutkan dalam Injil: Allah sering hadir paling dekat ketika Dia terasa paling jauh. Ketika Yesus berteriak di kayu salib, "Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" (Matius 27:46), justru di situlah karya keselamatan yang terbesar dalam sejarah sedang terjadi.

Di tengah kemacetan Tol Dalam Kota yang membuat kita terlambat rapat penting, di ruang tunggu rumah sakit saat menanti hasil medical check-up, di malam-malam sunyi ketika insomnia menyerang—Allah tidak sedang tidur atau cuek. Dia sedang bekerja dengan cara yang tidak dapat kita pahami sepenuhnya.

Doa yang "Tidak Dijawab" vs Doa yang Dijawab Berbeda

C.S. Lewis pernah berkata bahwa Allah menjawab doa dengan tiga cara: "Ya," "Tidak," dan "Tunggu." Ketiganya adalah jawaban, meskipun hanya yang pertama yang sering kita anggap sebagai jawaban.

Ketika kita berdoa untuk kenaikan gaji tetapi malah di-PHK, mungkin Allah sedang membuka pintu untuk pekerjaan yang lebih sesuai dengan panggilan hidup kita. Ketika kita memohon agar hubungan toxic itu berlanjut, Allah dalam kasih-Nya berkata "tidak" untuk melindungi kita dari kerusakan yang lebih besar.

Di komunitas Bible study Jakarta, kita sering mendengar kesaksian bagaimana Allah menjawab doa dengan cara yang tidak pernah terbayangkan—seringkali lebih baik dari apa yang kita minta.

Allah Hadir dalam Keheningan

Dalam 1 Raja-raja 19:11-12, Allah tidak berada dalam angin besar, gempa bumi, atau api—tetapi dalam "bunyi angin sepoi-sepoi basa." Terjemahan lain mengatakan "keheningan yang halus."

Di tengah kebisingan Jakarta—dari suara klakson mobil hingga notifikasi smartphone yang tak henti—mungkin kita perlu belajar mendengar Allah dalam keheningan. Bukan karena Dia tidak peduli, tetapi karena Dia ingin mengajarkan kita sesuatu yang lebih dalam tentang diri-Nya dan tentang diri kita.

Iman yang Diuji dan Dimurnikan

Ketika doa terasa tidak dijawab, iman kita sedang diuji—bukan untuk menghancurkan kita, tetapi untuk memurnikan motif kita. Apakah kita mencintai Allah karena apa yang bisa Dia berikan kepada kita, atau karena siapa Dia?

Ayub kehilangan segalanya, namun dia berkata: "Meskipun Ia membunuh aku, namun aku akan berharap kepada-Nya" (Ayub 13:15). Ini bukan masokisme spiritual, tetapi iman yang telah menemukan sesuatu yang lebih berharga dari jawaban doa—yaitu Allah itu sendiri.

Komunitas dalam Perjuangan

Salah satu hal terindah dalam kehidupan bergereja adalah kita tidak perlu berjuang sendirian. Ketika kita merasa Allah jauh, saudara seiman bisa menjadi tangan dan kaki Kristus bagi kita. Dalam kegiatan komunitas gereja, kita belajar bahwa perjuangan kita bukanlah yang pertama atau yang terakhir.

Harapan di Tengah Kegelapan

Kabar baik Injil adalah bahwa Allah tidak hanya memahami penderitaan kita—Dia telah mengalaminya. Yesus mengerti bagaimana rasanya merasa ditinggalkan Allah, karena Dia mengalaminya di kayu salib untuk kita.

Dan karena kebangkitan-Nya, kita tahu bahwa tidak ada kegelapan yang dapat mengalahkan terang-Nya, tidak ada keheningan yang dapat membatalkan kasih-Nya, dan tidak ada doa yang benar-benar tidak didengar-Nya.

Belajar Menunggu dengan Harapan

Mungkin hari ini Anda sedang berada dalam musim penantian yang melelahkan. Doa-doa yang Anda panjatkan berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun tampaknya tidak membuahkan hasil. Ijinkan saya mengingatkan Anda: keheningan Allah bukan berarti ketidakhadiran-Nya.

Dia sedang bekerja, bahkan ketika kita tidak melihatnya. Dia sedang menjawab, bahkan ketika jawabannya berbeda dari harapan kita. Dan suatu hari—entah di dunia ini atau di masa yang akan datang—kita akan melihat gambaran lengkapnya dan berkata, "Ya Tuhan, Engkau memang tahu yang terbaik."

Sampai hari itu tiba, marilah kita belajar untuk percaya di tengah kegelapan, berharap di tengah keheningan, dan tetap berdoa meskipun langit terasa seperti tembaga.

Karena Allah kita adalah Allah yang setia, bahkan ketika kesetiaan-Nya tidak terlihat dengan mata telanjang.


Mari bergabung dalam komunitas yang saling menguatkan di tengah perjuangan hidup. Karena kadang, jawaban Allah datang melalui saudara seiman yang Dia tempatkan di sekitar kita.

Bagikan Artikel

GKBJ Taman Kencana

Artikel ini ditulis untuk menginspirasi dan memperlengkapi Anda dalam perjalanan iman.

Baca Artikel Lainnya
Jadwal Ibadah
Petunjuk Arah
Telepon
WhatsApp

Jadwal Ibadah

Minggu

Ibadah Umum: 07:00 & 09:30

Ibadah Pemuda: 17:00

Sekolah Minggu: 09:30

Rabu

Doa Berkat: 18:00